Pengikut

Total Pembaca

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

About me

Melancong dari satu kota ke kota lain adalah kesukaanku. Melihat keindahan alam, mendaki gunung, main di pantai dan mengunjungi situs-situs budaya. Semua kisah perjalanan itu, kutulis dan kurangkai dalam blog pribadi.

Semoga isi dari blog ini menginspirasi dan memberikan informasi yang berguna.

Laman

Like us on Facebook

Menanti Senja di Pulau Nusakambangan

"Jika ingin backpacking ke suatu tempat, siapkan fisik dan mental. Ada banyak kejutan yang kita temui di perjalanan"
Sepotong senja Nusakambangan

Libur Imlek Februari 2016, Elvy mengajak berkunjung ke Cilacap. Sebenarnya ini rencana dadakan, jadi untuk mendapatkan tiket Kereta Api rasanya mustahil, tak ada pilihan selain naik bis. Kami janjian kumpul di terminal Kampung Rambutan Jumat pukul 9 malam, karena jadwal bis menuju Cilacap dari terminal ini hanya sampai pukul 9 malam . 

Pukul 8 malam saya tiba di terminal Kampung Rambutan, sedangkan Elvy masih terjebak macet di jalan Gatot Subroto. Seperti biasanya, jalanan di Jakarta Jumat malam luar biasa macet, apalagi menjelang long weekend. Sampai juga Elvy di terminal Kampung Rambutan, dari 7 orang yang akan ikut ke Cilacap ternyata 3 orang batal. Nisa juga sudah sampai, saya dan Elvy menghampirinya di luar terminal. Kami bertiga menunggu Andis yang entah terjebak macet di mana, menjelang pukul 10 akhirnya Andis datang.

Di dalam terminal, bis jurusan Cilacap sudah berangkat semua, tidak ada yang ngaret sampai pukul 10 malam. Alternatifnya kami akan naik bis jurusan Tasikmalaya, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Cilacap. Di barisan bis yang parkir kami melihat ada bis jurusan Karangpucung, Andis dan Nisa mengecek peta di HP . Dilihat dari peta dan jika dibandingkan dengan Tasikmalaya, posisi Karangpucung lebih dekat dengan Cilacap. Akhirnya kami memutuskan untuk naik bis jurusan Karangpucung.

Kami masuk bis melalui pintu belakang, Andis meletakkan carriernya dan duduk di bangku paling belakang disusul Nisa, saya dan Elvy.

“Ini smoking area ya?” pertanyaan yang dilontarkan Elvy saat melihat ada penumpang merokok di bangku belakang.

“Oh my God! Andis, ini nggak ada AC nya,” tampak ragu-ragu Elvy melangkahkan kakinya.

“Nggak ada pilihan lain,” kata Andis “Kalian duduk aja di bangku 3 di depan,” lanjutnya.

Pukul 10 pagi kami tiba di terminal Karangpucung, untuk sampai ke Cilacap kami harus menyambung 2 kali naik micro bus, dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam. Sesampainya di Cilacap, ada Om Ristanto Heru Widodo yang menjemput kami. Setelah istirahat, mandi dan makan siang di rumah Om Ristanto Heru Widodo, bergegaslah kami menuju pantai Teluk Penyu.


Mari piknik agar hidup makin seimbang

Liburan di Cilacap, destinasi yang kami tuju adalah kemping di pulau Nusakambangan. Ada 6 orang dari komunitas Patrapala (Pertamina Pecinta Alam) Cilacap termasuk Om Ristanto Heru Widodo, dan 3 orang dari Basarnas (Badan Search and Rescue Nasional) Cilacap yang akan mengantar dan menemani kami. Cuaca di pantai Teluk Penyu siang itu tampak cerah, suasananya ramai oleh pengunjung. Kapal kayu berkapasitas 15 orang sudah bersandar di pantai, tapi kami harus menunggu Mbak Dian dan suaminya yang belum juga datang.

Menjelang pukul 3 sore kami meninggalkan pantai Teluk Penyu. Ombak di laut tenang, hampir tak ada riak yang akan menggoyangkan kapal. Semilir hembusan angin laut, menerpa membuat mata ini semakin mengantuk. 15 menit menyeberangi lautan, akhirnya kaki ini bisa menyentuh pasir putih pulau Nusakambangan. Komandan Heru, sapaan hangat dari Patrapala untuk Om Ristanto Heru Widodo menghitung jumlah peserta. Lengkap 13 orang dan kami berjalan masuk ke dalam hutan pulau Nusakambangan.

Awalnya saya kira begitu turun dari kapal sudah bisa menemukan area untuk kemping. Ternyata harus trekking ke dalam hutan Nusakambangan. Ini adalah pengalaman pertama saya menginjakkan kaki di Nusakambangan. Trek yang kami lewati didominasi jalan menanjak, kami sempat istirahat dua kali. Jalanan basah dan becek membuat kami harus berhati-hati melewatinya. Di tengah perjalanan kami menemukan pohon besar yang tumbang. Teman Basarnas bilang jika keluar dari Nusakambangan, pohon ini bisa berharga mahal seperti pohon jati. Namanya pohon Taun, salah satu tanaman khas endemik Nusakambangan.

Istirahat mumpung dapat signal HP 

Trekking menerobos hutan Nusakambangan

Pukul 04.30 sore, setelah trekking selama 1.5 jam menerobos hutan rapat, sampailah kami pada area hutan terbuka. Aroma khas laut mulai tercium, pasir putih dan birunya laut terpampang di depan. Di sinilah area kemping kami, pantai Kali Empat Nusakambangan Timur. Matahari masih bersinar di atas garis laut, posisinya tepat di depan kami. Di sini tempat yang tepat untuk menyaksikan sunset.

Tiga tenda sudah kami dirikan, Om Joko merebus air untuk menyeduh teh dan kopi. Meskipun hari masih terang, api unggun telah dinyalakan oleh teman Basarnas. Kami melewati sore dengan bercengkerama, memandang laut lepas dengan ombak bergulung dan pecah ketika menyentuh batu karang. Komandan Heru tak henti-hentinya melempar lelucon, kami terpingkal-pingkal dibuatnya.


Santai menanti senja

Hidden paradise

Perjalanan jauh membuat Elvy tak mampu menahan kantuk dan letih, ia telah tertidur di atas hammock. "Jauh-jauh dari Jakarta, hanya untuk numpang tidur," Komandan Heru mengomentarinya. Bagi kami, ini tempat yang tepat untuk berlibur dan melepas penat. Pantai yang sepi dan yang terpenting ada sumber air tawar untuk kebutuhan kami.

Matahari perlahan-lahan turun, sayang cahaya emasnya terhalang oleh awan gelap. Semburat kilau emasnya menebar di langit. Kami berlari mendekati garis pantai, duduk menikmati senja, merasakan lembutnya pasir putih, menatap setiap gulungan ombak yang datang silih berganti. Kemudian perlahan-lahan cahaya senja memudar, berganti gelap dan malampun datang. Komandan Heru memanggil kami untuk meninggalkan pantai, karena air laut mulai pasang.

Pantai Kali Empat Nusakambangan

Menikmati senja

Saat malam tak banyak yang bisa kami lakukan, hanya duduk-duduk sambil bergurau. Kami menikmati bekal untuk makan malam yang telah kami bawa. Sebenarnya jika air laut surut, kami akan diajak mencari kerang di sekitar batu karang, tapi air laut belum juga surut. Badan ini terlalu letih setelah menempuh perjalanan panjang, saya ingin beristirahat di tenda. Tampaknya cuaca malam kurang bersahabat, kilau petir terlihat di langit, angin berhembus kencang dan gerimispun mulai turun. Elvy dan Nisa yang awalnya akan tidur di hammock segera masuk ke tenda. Terpal yang tadinya dijadikan alas duduk, buru-buru dibentangkan dijadikan tenda. Entah pukul berapa hujan mulai berhenti, saya sudah terlelap karena letih.

Komandan Heru, di manapun dan kapanpun selalu melucu 

Cuaca kembali cerah keesokan hari, teman-teman telah disibukkan untuk membersihkan dan merebus hasil perburuan tengah malam. Ada banyak kerang mata kebo, beberapa ikan dan kepiting. Yang lebih ekstrim adalah tupai panggang hasil berburu teman Basarnas. Komandan Heru mengajak kami untuk menyusuri pantai, jauh-jauh dari Jakarta jangan hanya numpang tidur katanya. Selain kami yang datang menikmati liburan, pantai ini juga didatangi oleh warga yang hobi memancing. Setelah sarapan, kami mulai berkemas untuk meninggalkan pantai Kali Empat dan mengakhiri liburan di Nusakambangan.

Mengolah kerang mata kebo untuk sarapan

Menikmati setiap gulungan ombak yang datang

Semua orang tahu, Nusakambangan adalah sebuah pulau yang dikenal sebagai tempat terletaknya beberapa Lembaga Permasyarakatan berkeamanan tinggi di Indonesia. Tapi bagian Timur pulau ini terbuka untuk umum, kita bisa menikmati keindahan pantainya.

Santai sambil memandang laut lepas

Ikan Bayam, sayang sudah banyak lalat yang datang.

Gara-gara kentang Dieng Kualitas Super



"Setiap perjalanan pasti meninggalkan cerita manis untuk dikenang "

Dua kali bertandang ke Dataran Tinggi Dieng Wonosobo Jawa Tengah saya tidak pernah membawa buah tangan berupa kentang , meskipun saya tau kentang asal Dieng ini adalah kualitas super. Alasannya simpel saja karena berat untuk ditenteng dan lagi pula di Jakarta banyak dijual . 

Panen Kentang

Daerah penghasil kentang ini punya pesona wisata yang tak habis untuk dieksplore dalam satu kali kunjungan. Tanggal 28 November 2015 adalah kali ketiga saya berkunjung ke Dieng. Ada spot wisata baru yang menarik perhatian saya dan teman-teman. Seperti biasa kami menghubungi teman kami yang tinggal di Dieng yaitu Mas Sugeng untuk menemani kami mengeksplore spot wisata baru .

Pukul 4.30 bus yang kami naiki tiba di terminal Mendolo Wonosobo , hanya kami berlima penumpang yang turun di terminal. Suasana di terminal masih sepi tapi bus kecil sudah banyak berjejer “Prau..Prau..Sindoro Sumbing,” suara teriakan para kondektur bus. Kenapa nama-nama gunung yang mereka teriakkan, ya karena sebagian besar penumpang yang turun di terminal Mendolo pagi itu adalah para penumpang dengan carrier di punggungnya. Bisa ditebak tujuan mereka adalah mendaki gunung.

Kami berlima melangkah menuju mushola untuk sholat Subuh dan tidak terburu-buru untuk melanjutkan perjalanan menuju Dieng. Soal tiket pulang ini bagian terpenting , sebenarnya di jakarta tiket pulang sudah kami pesan via telepon, tapi lebih aman jika kami membayar setibanya di terminal. Banyak traveler melakukan hal sama dengan kami, bisa jalan-jalan dengan tenang jika tiket sudah ada di tangan. Sambil menunggu PO. Pahala Kencana yang buka pukul delapan kami sarapan di salah satu warung kopi.

Kurang lebih pukul Sepuluh kami tiba di Dieng dan langsung menuju kediaman Mas Sugeng, sebenarnya hanya buat numpang mandi sekaligus repacking dan melengkapi logistik. Waaah panen kentang nich pikir saya ketika masuk rumah dan menemukan kentang-kentang bertebaran dalam rumah Mas Sugeng. Dua orang laki-laki sedang asik memilih kentang berukuran besar dan memasukkannya ke karung. Sebenarnya ini pemandangan yang biasa saya liat ketika ada di Dieng. 

Kentang Dieng
 
Bibit Kentang

Akhirnya kami berenam bisa melakukan perjalanan bersama kembali dengan tim yang sama ketika mendaki gunung Prau tahun 2014 lalu . Kurang lebih pukul dua saya, Dwi, Noer Diyanah, Bang Iwan, Bang Udin dan Mas Sugeng tiba di basecamp pendakian Gunung Pangonan Padang Savana Lembah Semurup. Untuk ngecamp kami dikenakan biaya Rp. 10.000 perorang. Waktu tempuh dari basecamp sampai Padang Savana kurang lebih antara 20 sampai 30 menit. 

Padang Savana Lembah Semurup

Kami sempat kehujanan ketika sampai di Padang Savana dan beruntunglah kami membawa flysheet , hujan reda foto-foto sebentar di Padang Savana dan melanjutakan perjalanan kembali. Di Padang Savana Semurup ini sebenarnya bisa buat kemping karena tempatnya luas, tapi di malam hari tempat ini dingin sekali karena di kelilingi bukit. Lagi pula kalau mau lihat sunset dan sunrise kita tetap harus naik ke puncak.

Kita ngecampnya di puncak itu ya, biar kalau liat sunrise sudah di puncak,” kata mas Sugeng.

Yaa, Gue ngak sanggup,” celetuk Noer Diyanah.

Coba dulu Nchink,” timpal saya. Nchink adalah panggilan akrab buat Noer Diyanah.

Hanya gunung dengan ketinggian kurang lebih 2300 mdpl bahkan bisa dibilang ini bukit, tapi treknya aduhaaai tanjakan terus tanpa bonus. Jalurnya tanah yang gembur nggak kebayangkan kalau diguyur hujan pasti gampang amblas. Beberapa kali kami harus kehujanan di jalan dan lagi-lagi membentangkan flysheet untuk berteduh. 

Pagi yang indah

Sampai di puncakpun kami kehujanan lagi, para lelaki sibuk mendirikan tenda. Di jalan ketika hendak menghampiri mereka pandangan saya tertuju pada kentang yang ada di tanah, ada dua yang satu berukuran besar dan satunya kecil. Saya pungut yang besar sambil teriak “ada kentang bisa dimasak” dan meletakkannya di samping tenda.

Saat pagi kami disibukkan masak buat sarapan dan yang kami masak semuanya serba karbohidrat, tak apalah karna malamnya menu kami ada pecel sayur. Saya kebagian memasak nasi goreng dan Noer Diyanah sibuk menyiapkan menu bihun goreng. Saat mencuci beras tiba-tiba saya teringat pada kentang yang saya pungut di jalan.

Masak Nasi

Kentang mana? ada di samping tenda kemarin, kan bisa di masak,” celetuk saya.

Noer Diyanah bersemangat mengupas dan mengirisnya tipis kemudian digoreng. Pelengkap sarapan pagi kami. Saatnya sarapan dan saat mencoba kentang goreng rasanya benar-benar enak, ini kentang Dieng kualitas super. Karena sudah merasakan enaknya kentang Dieng Noer Diyanah berencana membelinya untuk oleh-oleh. 

Goreng Kentang

Saat kembali ke rumah Mas Sugeng, kentang-kentang yang ada di rumah mulai diangkut ke mobil. Yang tersisa hanya yang kecil-kecil untuk bibit, kami diberi gratis oleh ibunya Mas Sugeng. Dwi, Noer Diyanah dan Bang Udin memilih dan mengambil secukupnya untuk dibawa pulang.

Gaya obrolannya sudah kayak Reporter aja; Ala-ala reportase

Waktunya berpamitan untuk pulang tiba-tiba kentang yang ada di dua keranjang dimasukkan ke kantong plastik dan kami disuruh membawanya. Suasana jadi gaduh semua bilang sudah bawa di dalam tas, semua pada bilang “berat Bu,” Bang Iwan mengalah mengambil satu kantong dan satu kantong lagi menjadi ancaman buat saya yang sama sekali belum mengambil.

Wah saya ngak mau bawanya ini berat banget,” protes saya. Saat saya ingin mengurangi tetap dipaksa untuk membawanya.

Halah ngak berat, kan mobil yang bawanya. Nanti Sugeng yang bawa sampai ke mobil,” seru ibunya Mas Sugeng.

Nantikan kami balik ke mari lagi Bu,” kata Bang Iwan.

Belum tentu pas panen, panennya aja empat bulan sekali,” jawab ibunya Mas Sugeng.

Bang Udin yang tadinya mau pulang dengan melenggang, berharap daypack makin ringan nyatanya makin berat. Gara-gara memungut kentang jadi memanggul kentang, itulah lelucon yang terlempar saat kami berjalan menuju bus.

Saat tiba di terminal Mendolo kentang kami bagi rata sama berat. Kami berpisah di sini, saya dan Dwi naik bus jurusan Kampung Rambutan sedangkan Noer Diyanah, Bang Iwan dan Bang Udin pilih bus jurusan Cengkareng. Di bus kentang kami letakkan di bagasi di atas kepala, bus melaju sesekali oleng ke kiri dan ke kanan mengikuti jalan yang berliku. Ada perasaan kahwatir dengan kentang di atas kepala jadi sesekali saya menoleh ke atas memastikan posisi kentang. Saat asik ngobrol tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh mengenai saya, sontak kaget sambil menoleh ke atas . Saat saya periksa bungkusan kentang saya masih rapih terikat. Tak lama berselang ada yang jatuh lagi mengenai saya.

Wah Dwi ada yang jatuh nih,” kata saya.

Saya cek ternyata kentang-kentang Dwi yang lolos dari plastiknya, mungkin karna packing yang kurang rapih dan kurang kuat mengikatnya atau mungkin dia nggak mau di bawa ke Jakarta.

Lumayan sakit kejatuhan kentang, dan kentangnya tergeletak ada di jalan.

Ambil Mbak,” kata Dwi “itu bisa terpeleset nggak yang lewat,” lanjutnya.

Nggak ah malu, paling juga ketendang,” timpal saya.

Sampai juga Kentang Dieng di rumah. Pagi ini rasanya tangan gagal ingin mengolah kentang untuk sarapan, jadilah saya mengolahnya menjadi kentang tumbuk alias mashed potato. Rasanya belum sempurna tapi bisa untuk sarapan sehat pagi ini.

Mashed Fotato

Tag : ,

Embung Batara Sriten; Menikmati Ketinggian Wisata Gunung Kidul

Yogyakarta sebagai kota wisata dan budaya emang selalu asik untuk dikunjungi rasanya nggak akan bosan ke Jogja dan Jogja lagi, ada banyak tempat wisata yang menarik di kota ini. Pertengahan November 2015 kemarin aku datang ke kota ini untuk menghadiri Wisudah adik, esok harinya masih ada waktu untuk jalan-jalan karena jadwal kereta pulang sengaja aku pilih yang malam. Cari info wisata baru di Jogja dari internet dan tertariklah pada nama "Embung Batara Sriten".

Setelah tanya ke adik eeeh dia tau rute-rute jalan yang akan dilewati dan beruntungnya dia mau anterin kakaknya menuju Gunung Kidul. Pukul Lima pagi kami meninggalkan hotel, motor melaju menuju Jl. Wonosari » Piyungan » Bukit Patuk atau Bukit Bintang » Pertigaan Sambipitu ke kiri menuju arah Nglipar » Perkebunan Hutan Kayu Putih » Pertigaan sebelum Pasar Nglipar ke kiri » Jalan Nglipar-Ngawen » Kedungpoh » Pertigaan timur Kantor Kepala Desa Pilangrejo tepatnya Jl. Nglipar-Ngawen Km. 6,5 ke kiri » ikuti jalan aspal dan cor blok sambil lihat penunjuk arah ke Embung Batara Sriten dan Perbukitan Baturagung (Puncak Tertinggi Gunungkidul). Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan dan sempat nyasar juga dan tanya sana sini akhirnya kami sampai di pintu loket masuk ke Embung Batara Sriten, kami membayar biaya masuk untuk satu motor dan 2 pengunjung sebesar Rp. 8.000. Dari loket masih berjarak 1 KM lagi dengan kontur jalan berbatu, sepertinya kalau mau ke sini mesti cek kondisi kendaraan kita jangan sampai mogok ataupun ban bocor, cek juga mesin kendaraan karena perjalanan yang kita tempuh menanjak terus dengan kemiringan kurang lebih 35 derajat dari jalan mulus aspal makin ke atas jalanan makin jelek berbatu.



Pukul 7 kami tiba di parkiran kendaraan, suasana sepi dan kami duduk di salah satu bale-bale pondokan untuk istirahat sambil sarapan. Masih terlalu pagi suasana juga masih diselimuti kabut yang perlahan-lahan terangkat oleh sinar matahari. Sayang rasanya hanya duduk di bale-bale pondokan, aku beranjak untuk mengitari Embung sepintas terbesit "jauh-jauh sampai di puncak hanya ada kolam air segini doang". Apa sih Embung itu? Embung adalah tampungan air raksasa, bisa dikatakan seperti waduk. Sedangkan Batara adalah suatu prasasti Baturagung Rahayu dan Sriten itu sendiri nama daerah ini Padukuhan Sriten. Embung ini dibangun untuk menampung air hujan, nah airnya dipergunakan untuk mengairi perkebunan buah di sekitaran bukit.



Wisata Embung Batara Sriten termasuk yang terbaru di Jogja, baru dibuka secara resmi oleh Kanjeng Ratu Hermas istri Sri Sultan Hamengkubuwono X pada tanggal 17 Maret 2015 dan menjadi wisata tertinggi di Gunung Kidul. Apa saja yang menarik di wisata Embung Batara Sriten? suasana pagi yang masih sepi menjadikan aku bebas untuk mengeksplor setiap sudutnya, hanya ada 3 orang pengunjung yang asik foto-foto di dekat Embung. Dari kejauhan terlihat para pekerja kebun sedang sibuk membersihkan rumput-rumput liat. Dari pinggiran Embung aku beranjak naik ke atas bukit melalui tangga menuju rumah pendopo, penasaran aja kenapa di setiap sudut selalu ada bale-bale pondokan tempat istirahat. Waaah benar ternyata di puncak inilah tempat terbaik untuk menikmati Embung Batara Sriten, posisi 360 derajat menjadikan kita bebas memandang view dari atas ketinggian. Berhati-hatilah jangan terlalu mendekati tebing, di atas puncak ini kita bisa melihat perbukitan dan persawahan serta pemukiman penduduk yang ada di bawah, di sebalah barat ada Dusun Gedang Sari, di tengah ada desa Tegal Rejo dan rawa Jombor Klaten pun terlihat dari atas puncak ini.




   

  
Aku berada di puncak tertinggi Gunung Kidul namanya Puncak Mangir di ketinggian 859 mdpl, ada tugu yang dibuat khusus untuk menandainya. Saat sampai di puncak sempat kaget soalnya di samping tugu ada bangunan makam, laaah makam siapa di atas puncak ini dan akhirnya ada yang kasih tau kalau itu bukan makam tapi sebuah petilasah prasasti yang dibangun untuk mengenang bahwa dulunya tempat ini digunakan untuk peristirahatan Petapa Raden Syeh Wali Jati. Puncak Mangir adalah tempat terbaik untuk melihat Sunset dan Sunrise dan kalau mau kempingpun bisa, cukup membayar izin perorang Rp. 10.000. Selain itu Puncak Mangir dipergunakan untuk Paralahyang mengepakkan parasutnya yang akan mendarat di lapangan Watgalih desa Pilangrejo. 



Puas berada di puncak dan rasa laparpun menghampiri, kami istirahat di warung yang ada di dekat parkiran kendaraan sambil minum teh. Kepada pemilik warung bernama ibu Tumiati inilah aku banyak bertanya tentang Embung Batara Sriten ini, semoga kelak tanaman buah yang ada di Embung Batara Sriten ini tumbuh subur dan menjadi ecowisata andalan Gunung Kidul. Kami meninggalkan Embung Batara Sriten kurang lebih pukul 09.30.



Sekian cerita dari Gunung Kidul, terima kasih sudah membaca dan berkomentar.

Air Terjun Blawan

 
Turun dari gunung Ijen dengan kaki pegal dan badan letih terus dapat tawaran mandi di pemandian air panas itu rasanya seperti kehausan di panas terik kemudian disodorin segelas orange jus. Tawaran yang tepat buat merilekskan otot-otot kaki yang kaku.

Dari parkiran Paltuding di gunung Ijen mobil elf membawa saya dan teman-teman seperjalanan ke kawasan Pabrik Kopi Kebun Blawan, tepatnya di desa Kalianyar, kecamatan Sempol, kabupaten Bondowoso Jawa Timur. Kurang lebih 30 menit dari parkiran Paltuding ke arah jalur Ijen lewat Bondowoso.

 
Pemandangan yang asri begitu memasuki kawasan perkebunan dengan sungai yang mengalir di sisi kanan jalan. Ada 3 objek wisata yang bisa kita kunjungi di sini yaitu pemandian air panas, air terjun Blawan dan Gua Kapur berjarak kurang lebih 1 KM dari pintu gerbang kawasan pabrik. Yang menarik perhatian saya adalah halaman rumah-rumah penduduknya dipenuhi tanaman sayur dan bunga, hijau dan penuh warna-warni bunga yang bemekaran. Nah, jika di Paltuding kita kehabisan penginapan di kawasan Pabrik Kopi Kebun Blawan ini tersedia banyak penginapan.



Saya sudah tak sabar segera ingin rileks berendam air panas begitu mobil elf parkir di depan pintu masuk pemandian air panas. Untuk menemukan Pamandian air panas kami harus berjalan kurang lebih 300 meter dengan struktur jalan yang naik turun, cukup membayar tiket lima ribu rupiah kita sudah bisa berendam di kolam yang tak begitu luas dan merasakan pijatan alami. Setelah berendam saya pun bersih-bersih di kamar mandi yang ada di samping kolam, airnya pun panas langsung dari sumber mata air.



Setelah badan segar bugar kami mulai beranjak mencari air terjun Blawan yang letaknya tak jauh dari pemandian air panas, berjalan ke arah belakang lokasinya sedikit tersembunyi. Mengikuti papan petunjuk akhirnya kami menemukan lokasi air terjun Blawan dengan membayar tiket masuk Rp. 2.000.


Air mengalir dari dinding tanah di sisi kiri yang berasal dari aliran sungai Kali Pahit, yang juga merupakan tempat pembuangan air dari kawah ijen. Air terjun setinggi kurang lebih 30 meter ini berwarna kuning tak lain karena kandungan belerang, kepulan uapnya menutupi dinding-dinding hijau dan tebing curam  disekitarnya. Air dari air terjun ini berjalan turun ke bumi atau tidak mengalir ke permukaan bumi, tapi masuk ke suatu trowongan atau sungai yang berada di bawah tanah yang kemudian ditampilkan lagi atau muncul di Asembagus, Kabupaten Situbondo ke Laut Jawa.

Sebagian dari kami sempat mengunjungi Gua Kapur tak jauh dari air terjun Blawan, sedangkan saya memilih kembali ke parkiran mobil mengingat hari telah beranjak sore dan gelap.

Dari Gua Surupan Sampai Pantai Sawangan, Menikmati Hari Libur Kemerdekaan

Pantai Sawangan

Ini kali ketiga saya main ke Gombong-Kebumen, Jawa Tengah dan untuk ketiga kalinya pula tujuannya tak lain adalah untuk caving. Tiga kali caving gua di gombong peserta perempuannya selalu tiga, padahal berharap kali ini akan banyak perempuannya. Perjalanan kali ini berbeda dengan perjalanan sebelumnya, libur tiga hari di bulan Agustus membuat kami santai mengatur perjalanan, nggak perlu lagi bergadang cari tiket kreta Progo yang aduhaaai susahnya karena harus rebutan dengan Asosiasi Pekerja Pelaju jalur kereta selatan yang selalu pulang di hari Jumat malam.

Sabtu 15 Agustus 2015 pukul 05.30 kami berangkat dari stasiun Senen Jakarta menggunakan kereta Kutojaya Utara tarif Rp. 80.000, sampai di stasiun Gombong pukul 12.20. Dari stasiun Gombong kami di jemput mas Yos (guide caving gua) dengan mobil operasional pantai Menganti, setelah makan siang kami melanjutkan perjalanan menuju menuju Gombong Selatan tepatnya menuju Desa Karang Duwur Kecamatan Ayah Kebumen.
Kurang lebih pukul empat sore kami tiba di Pantai Sawangan, malam ini kami akan camping di sini. Pantai Sawangan sendiri baru dibuka untuk umum tanggal 18 Mei 2015. Objek wisata yang dikelola oleh pemuda-pemuda desa Karang Duwur, dana untuk pengelolaannya yang mencari kepala desa. Jalan menuju pantai Sawangan yang tadinya masih tanah kini sudah disemen, ada tempat penitipan kendaraan dan dibangun juga 2 buah toilet umum. Objek wisata yang mereka kelola diberi nama “Sawangan Adventure” yang meliputi wisata pantai, air terjun, flying fox dan gua.

Dari tempat parkir kendaraan kami berjalan ke arah bukit, mas Yos mengajak kami ke arah tebing menunjukkan mulut Gua Sawangan dan Air Terjun Sawangan.

Besok kita keluarnya di mulut gua itu,” tunjuk mas Yos kepada kami.

Kita campingnya di mana Mas?” tanya saya mengingat tempat ini luas.

Di sana dekat Gua Siwowo,” jawab mas Yos.

Andis, Elvi, Rizwan dan louis sudah jalan duluan ke arah tebing dekat pantai, saya ikuti mereka melewati jalan setapak disusul Surya dan mas Indar. Dari atas tebing saya perhatikan mereka mondar-mandir dari ujung tebing ke tebing yang lainnya. Matahari mulai turun mendekati garis pantai dan warna jingganya pun mulai merona, sayang meskipun cuaca cerah tapi laut seperti diselimuti kabut.

Saya turun menyusul mereka melihat lebih dekat sisi lain setiap sudut pantai, dan di ujung kanan tebing tanpa kami sadari Andis sudah mendirikan tenda dan hammock. Lokasinya lumayan keren sih view langsung menghadap ke laut dan sunset, tapi terlalu sempit buat mendirikan 2 tenda dan memasang hammock lagi pula anginnya kenceng benget. Mas Yos menghampirinya dan terpaksalah tenda dan hammock Andis dibongkar.



Di kolasi yang baru kami mendirikan 2 tenda dan 4 hammock, cuaca cerah jadi kami bisa melihat dengan jelas milky way sambil masak mie instan dan minum-minuman hangat. Ngobrolin destinasi-destinasi yang pernah kita jalani bareng sambil menahan dingin sampai kantuk menghampiri dan waktunya mengistirahatkan badan tiba.

Caving Gua Surupan

Berhubung Gua Surupan bukanlah gua dengan jalurnya yang panjang dan memakan waktu yang berjam-jam, maka tidak ada target khusus jam berapa kami akan mulai caving. Pagi itu kami bisa santai menikmati pagi yang sepi jauh dari keramaian, nun jauh di sana tentunya gunung-gunung padat dengan puluhan tenda para pendaki yang akan merayakan upacara 17 Agustus. Santai menikmati pagi udara pantai Sawangan sampai mobil menjemput kami dan menghantarkan kami untuk sarapan di rumah Kepala Desa. 

Pantai Sawangan lokasinya dekat dengan pantai Menganti, pagi itu kami menyempatkan menyambangi pantai Menganti yang pengelolaan fasilitasnya berkembang pesat. Menjelang siang pukul sebelas kami kembali ke pantai Sawangan untuk persiapan caving Gua Surupan. Dari area perkir pantai Sawangan menuju pintu Gua Surupan desa Argopeni kami konvoi menggunakan motor, sampai di jalan raya kemudian melanjutkan perjalanan dengan trekking melewati semak ilalang dan sampailah kami di mulut Gua Surupan yang besar. 

"Ini kegiatan berbahaya, caving wajib didampingi oleh pemandu yang berpengalaman. Dilarang keras merusak ornamen-ornamen yang ada di dalam Gua"


Sebelum masuk lebih ke dalam mas Yos memberikan panduan kepada kami terutama etika-etika dalam caving diantaranya, jangan mengambil apapun selain foto, jangan membunuh apapun selain waktu dan jangan meninggalkan apapun selain jejak. Tetap berjalan dengan hati-hati dan jangan sampai membuat stalaktik ataupun stalakmit yang masih tumbuh menjadi patah.

Air sungai bawah tanah yang sedang surut membuat saya lega melewatinya, kami terus berjalan melewati genangan dan rombongan kami cukup banyak karena mas Yos mengajak calon guide caving dari Sawangan Adventure. Di dalam gua mas Yos mengenalkan ornamen batu-batuan yang ada, seperti stalaktik, stalakmit dan flowston kepada tim Sawangan Adventure. Karakter dan ornamen-ornamen Gua Surupan tak jauh beda dengan yang ada di gua Petruk. “Ruang besar di dalam goa namanya cember,” jelas mas Yos ketika kami berada di dalam ruang yang besar.




Di dalam Gua Surupan juga masih bisa kita jumpai hewan seperti kelelawar, katak, jangkrik bahkan udang. Saat melewati batu Andis sempat menemukan udang, sayang saat mau ditangkap keburu udangnya hanyut kebawa air. Caving dengan karakter gua yang ada sungai bawah tanahnya sebenarnya menguntungkan kita, air membawa oksigen yang cukup untuk kita selain itu udara segar selalu bisa kita rasakan. Nah kekurangannya kita harus bisa bertahan di dalam air dengan menahan dingin.

Sungai bawah tanah ini akan mengalir ke mulut Gua Sawangan yang menghadap langsung ke laut dan membentuk Air Terjun Sawangan, kami berjalan menuju pintu gua mengikuti aliran air yang jatuh melalui batu. Untuk menuruni batu tersebut mas Yos meminta dua orang turun terlebih dahulu untuk membantu kami karena ketinggiannya mencapai kurang lebih dua meter. Satu persatu kami mulai turun dengan bantuan tali webbing dan dibantu oleh dua orang yang sudah ada di bawah. Setelah selesai semuanya turun berjalanlah kami ke arah mulut Gua Sawangan. Satu jam berada di dalam gua akhirnya kami bisa menemukan jalan keluar. Andis berjalan cepat sambil melambai-lambaikan bendera merah putih diikuti kami yang tak sabar segera melihat pemandangan di luar gua.





Subhanallah ternyata view dari mulut Gua Sawangan memang kereen, bergantian kami berfoto sambil mengkibar-kibarkan merah putih. Ada air terjun Sawangan yang tingginya mencapai kurang lebih 70 meter, sayang musim kemarau yang menyebabkan air mengalir sedikit. Dari mulut Gua Sawangan kita bisa melihat langsung Samudera Hindia dan tebing-tebing yang menjorok ke lautan.



Kami berjalan menuruni tebing mendekati pantai, istirahat sebentar sambil menunggu rombongan yang nggak puas-puas berfoto dengan latar air terjun, mulut gua dan laut. Dari pantai kami harus trekking ke atas menuju mulut Gua Siwowo. Di Gua Siwowo kami mencoba menuruni gua vertikal ini dengan cara rappeliing, mas Yos dibantu 2 orang dari Sawangan Adventure memasang peralatan. Saya dan Andis mencoba yang pertama untuk menuruninya, mas Yos mengajarkan ke kami cari pengopersikan alat outostop yang saya pegang di tangan kanan sambil tangan kiri mengulur webbing. Cukup mudah dan kami mulai turun dan berayun di ketinggian kurang lebih 30 meter.







Selesai rappelling kami bersantai melepas lelah di luar mulut Gua Siwowo, sambil menghabiskan waktu menunggu jemputan yang mengantarkan kami ke lokasi camping malam ke dua di lokasi yang berbeda.


Indahnya kalau pagi bisa dibangunkan oleh suara ombak. Pagi itu 17 Agustus 2015 kami harus kembali ke Jakarta. Pukul Delapan pagi kami sudah meninggalkan area camping menuju Stasiun Gombong. Semoga suatu hari kami bisa kembali ke daerah ini untuk mengeksplore tempat-tempat yang indah lainnya.




- Copyright © Jalan-jalan Asik - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -