Pengikut

Total Pembaca

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

About me

Melancong dari satu kota ke kota lain adalah kesukaanku. Melihat keindahan alam, mendaki gunung, main di pantai dan mengunjungi situs-situs budaya. Semua kisah perjalanan itu, kutulis dan kurangkai dalam blog pribadi.

Semoga isi dari blog ini menginspirasi dan memberikan informasi yang berguna.

Laman

Like us on Facebook

Menyusuri Jejak Sejarah dan Kebudayaan Melayu di Pulau Penyengat




Pulau Penyengat dari namanya memang sedikit aneh, pulau ini terletak di Provinsi Kepulauan Riau, pulau ini menjadi salah satu objek wisata sejarah andalan di Provinsi Kepulauan Riau. Pulau ini dapat ditempuh selama 15 menit dari kota Tanjung Pinang dengan menggunakan perahu motor kecil atau yang biasa disebut dengan pompong, dengan tarif Rp. 5.000 per orang atau Rp. 80.000 per perahu jika Anda ingin menyewanya dengan sekali jalan.

Sesampai di Pulau Penyengat Anda bisa langsung melihat bangunan unik berwarna kuning, inilah Masjid Raya Sultan Riau. Konon Masjid ini dibangun dengan tidak menggunakan semen sama sekali sebagai bahan perekatnya, hanya menggunakan campuran telur, kapur dan tanah. Di depan pintu utama masjid pengunjung akan melihat kitab suci Al Quran tulisan tangan yang diletakkan di dalam peti kaca, Al Quran ini ditulis oleh Abdurrahman Stambul Sultan Kerajaan Riau pada tahun 1867 M. Ia adalah salah seorang Putra Riau yang dikirim Kerajaan Riau-Lingga untuk menuntut ilmu di Istambul Turki, Al Quran bergaya Istambul ini ditulisnya disela-sela kegiatannya mengajar agama Islam di Pulau Penyengat.


Puas melihat-lihat Masjid Raya Sultan Riau Anda bisa mengelilingi Pulau Penyengat dengan berjalan kaki atau jika malas berjalan kaki Anda bisa naik Becak Motor dari depan Masjid dengan tarif Rp. 25.000. Becak Motor ini akan mengantarkan Anda ke tempat-tempat bersejarah berikutnya. Sepanjang jalan Anda akan menikmati suasana Pulau Penyengat yang sepi, tidak ada suara mobil hanya ada beberapa motor yang lalu-lalang, penduduknya pun lebih memilih diam di dalam rumah.

Terdapat beberapa Kompleks Makam Bangsawan di Pulau ini salah satunya adalah kompleks makam Raja Hamidah (Engku Puteri) pemegang Religa Kerajaan (alat-alat kebesaran kerajaan). Raja Hamidah adalah permaisuri Sultan Mahmud Syah III (1760-1812).




Sultan Mahmud Syah III adalah keturunan Sultan Riau IV dengan gelarnya Raja Haji Fisabilillah yang merupakan pahlawan nasional dalam membela tanah melayu dalam peperangan melawan Belanda. Pulau ini milik Raja Hamidah yang diberikan oleh Sultan Mahmud Syah III sebagai mahar atau mas kawin.

Terdapat pula makam Raja Ali Haji (1808-1873), seorang pahlawan nasional dalam bidang sastra dan bahasa Indonesia, pujangga terkenal dengan hasil karyanya Gurindam 12, 12 pasal syair melayu yang berisikan nasihat-nasihat. Selain itu ada makam Raja Ahmad seorang penasehat kerajaan. Raja Haji Abdullah yang Dipertuan Muda Riau-Lingga IX (1855-1858) serta Permaisurinya Tengku Aisyah.



Tak jauh dari Kompleks Makam Raja Hamidah terdapat pula Kompleks Makam Raja Jafar yang Dipertuan Muda Riau-Lingga VI (1806-1831) dan Raja Ali yang Dipertuan Muda Riau-Lingga VIII (1844-1855) anak dari Raja Jafar beserta keturunannya. Hampir seluruh keturunan Raja Riau-Lingga dimakamkan di Pulau Penyengat.



Satu lagi peninggalan sejarah yang dapat Anda kunjungi adalah Balai Adat Melayu Indera Perkasa. Balai Adat adalah tempat penyimpanan perkakas-perkakas Raja dan Tuan Putri. Terdapat pelaminan pengantin di dalam Balai Adat ini. Selain itu di bawah bangunan Balai Adat Melayu Indera Perkasa terdapat sumur yang konon merupakan sumber mata air pertama di Pulau Penyengat.



Jika Anda sedang berada di kota Tanjung Pinang atau Batam, sempatkanlah berkunjung ke Pulau Penyengat di Kepulauan Riau.
 

Mendaki Gunung Anak Krakatau



Letaknya di tengah laut di perairan Selat Sunda, serta asal usul terbentuknya menjadikan Gunung Anak Krakatau terlihat berbeda dan istimewa dari gunung-gunung lainnya. Hal itu pula yang membuat saya tertarik untuk melakukan perjalanan ke sana.

Pagi itu Minggu, (24/2/2013) sebelum matahari terbit kami harus segera bangun untuk mempersiapkan diri melakukan perjalanan dari Pulau Sebesi tempat kami bermalam menuju Gunung Anak Krakatau. Waktu belum menunjukkan pukul 04.00 WIB semua anggota rombongan sudah berada di dalam kapal dan siap mengarungi lautan. Angin berhembus kencang, lautan masih terlihat gelap, suasana di dalam kapal pun sunyi, sebagian dari kami memilih melanjutkan tidurnya.

Kapal yang membawa kami masih terombang-ambing di lautan lepas, terhuyung ke kiri ke kanan, semakin lama goyangannya semakin terasa kencang “braaaak'' kapal menabrak ombak. Goncangannya mengagetkan kami, menyiutkan nyali, menaikkan adrenalin disusul teriakan-teriakan kami. Masing-masing segera mengambil posisi tidur, merebahkan badan adalah cara terbaik untuk mengurangi rasa mual. Suasana kembali sepi hanya berdoa dan berfikir positiflah yang dapat kami lakukan. 


Kapal ini sudah berlayar cukup lama, normalnya perjalanan dari Pulau Sebesi menuju Gunung Anak Krakatau dapat ditempuh selama 2 jam. Tapi inilah alam kita tidak dapat memprediksinya. Akhirnya sampai juga kapal ini menyentuh bibir pantai Gunung Anak Krakatau. Matahari sudah terlihat bersinar, ada kapal kayu kecil yang siap mengevakuasi kami menuju daratan.

Entah sejak kapan Gunung Anak Krakatau dibuka untuk tujuan wisata. Gunung api aktif ini merupakan “Cagar Alam” harta yang tak ternilai bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Sebagai Cagar Alam hanya ada empat tujuan yang diperbolehkan untuk menginjakkan kaki ke sini yaitu untuk penelitian, pendidikan, pengembangan pengetahuan dan penunjang budidaya.

Untuk bisa masuk kawasan Cagar Alam ini kita harus mengantongi Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) dari Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Lampung, hal ini bertujuan untuk melindungi pengunjung mengingat kawasan ini sangat berbahaya.

Sebelum melakukan pendakian kami mendapat pengarahan dari petugas, mereka sangat ketat mengawasi pengunjung, tapi bagi mereka wisatawan seperti kami bisa menjadi obat penghilang sepi, bayangkan setiap hari mereka harus berada di pulau yang tak berpenghuni ini. Ya, akhirnya kami diperbolehkan mendaki Gunung Anak Krakatau.

Di jalur pendakian yang tersedia saya berjalan cepat, berharap bisa mengabadikan puncak Gunung Anak Krakatau sebelum dipenihi oleh para narsis. Struktur tanah berpasir menjadikan pendakian ini berat dan licin bahkan berdebu, mendaki pagi hari adalah waktu yang tepat untuk menghindari panasnya pasir yang kita injak. Gundukan batu yang mengeras, sisa-sisa dari aktivitas vulkanik gunung api, menjadikan pemandangan menarik sepanjang pendakian.

Mungkin inilah gambaran jika Gunung Anak Krakatau ini sedang meletus, ia akan mengeluarkan api dan memuntahkan material-material yang ada di dalam perut. Tapi pagi itu saya sedang memandang Gunung Anak Krakatau yang sedang diam dan tertidur. Hanya dibutuhkan waktu kurang lebih 30 menit untuk bisa mencapai lereng Gunung Anak Krakatau, kita dilarang mendaki sampai ke atas puncaknya. Dari atas lereng gunung itu saya bisa memandang lautan lepas, deretan pulau-pulau yang mengelilingi Gunung Anak Krakatau, semuanya terlihat indah. Sedangkan di puncak Gunung Anak Krakatau terlihat kepulan asap belerang.


Puas berada di Gunung Anak Krakatau, saatnya wisata pantai dan laut. Tak hanya Gunung Anak Krakatau yang menjadi daya tarik di Selat Sunda. Deretan pulau-pulau kecil dengan pantai berpasir putih dan airnya yang berwarnah hijau toska menambah pesona keindahan Selat Sunda. 

Yang tak kalah menarik adalah keindahan bawah lautnya, surga bagi Penyelam. Lagoon Cabe ada spot terbaik untuk snorkeling. Sebelum menjatuhkan diri ke laut, Malik ketua rombongan kami berteriak “ingat teman-teman jangan menginjak terumbu karang, butuh waktu berpuluh-puluh tahun terumbu karang dapat tumbuh, jika kalian masih menginginkan anak cucu kita bisa menikmatinya”.

- Copyright © Jalan-jalan Asik - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -