Pengikut

Total Pembaca

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

About me

Melancong dari satu kota ke kota lain adalah kesukaanku. Melihat keindahan alam, mendaki gunung, main di pantai dan mengunjungi situs-situs budaya. Semua kisah perjalanan itu, kutulis dan kurangkai dalam blog pribadi.

Semoga isi dari blog ini menginspirasi dan memberikan informasi yang berguna.

Laman

Like us on Facebook

Caving Goa Petruk & Goa Liyah, Seruuu!

Sayup-sayup terdengar teriakan dari bangku depan mini bus yang kami tumpangi.

Sudah sampai jangan lupa ongkosnya sepuluh ribu ya,” suara mas Budi membangunkan tidur saya.

Perjalanan satu jam dari Gombong ke desa Candirenggo sengaja saya manfaatkan untuk tidur, maklumlah di perjalanan sebelumnya dari Jakarta tidur saya sangat terbatas. Hujan rintik menyambut kedatangan kami ketika kaki kiri melangkah turun dari bus. Sejenak saya melihat ke sekeliling dan melirik jam tangan waktu menunjukkan pukul 06.45 pagi, kemudian berlari kecil menyusul rombongan menuju home stay.

Caving atau susur goa akan dimulai pukul sepuluh, tidak hanya rombongan kami dalam kegiatan ini ada juga rombongan Patrapala (Pertamina Pecinta Alam) Cilacap. Sambil menunggu rombongan Patrapala kami duduk di teras home stay, masih cukup waktu untuk kami beristirahat dan santai. Hujan belum juga berhenti, pandangan saya tertuju pada sebuah bukit ditutupi rimbunan pohon yang kemudian baru saya ketahui di sanalah lokasi Goa Petruk. Goa Petruk dan Goa Liyah sendiri masuk dalam Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS) kabupaten Kebumen Jawa Tengah.

Persiapan

Ini adalah kali pertama saya, Elvi, Patricia, Louis, Mas Indar dan Apri mengikuti caving Goa Petruk dan Goa Liyah, sedangkan mas Budi justru sudah berkali-kali dan mas Budi lah yang mengajak kami sampai ke tempat ini. Masing-masing dari kami mengambil perlengkapan caving dan kini wearpackboots sudah kami kenakan,helmet dan headlamp pun sudah menempel di kepala kami. Tidak ketinggalan kamera anti air siap mengabadikan perjalanan kami, caving diperkirakan akan berakhir pukul lima sore jadi makanan ringan dan minuman wajib dibawa dan siap memenuhi dry bag kami. Sebelum caving dimulai  mas Yos pemandu kami yang pernah bekerja sebagai crew Jejak Petualang salah satu program televisi swasta mengajak kami untuk berdoa dan menyampaikan beberapa etika yang harus dipegang teguh oleh para penelusur goa.

Baiklah sebelum caving dimulai ada etika-etika yang tidak boleh dilanggar yaitu jangan mengambil apapun kecuali foto, jangan membunuh apapun kecuali waktu dan jangan meninggalkan apapun kecuali jejak,” etika-etika yang disampaikan mas Yos sudah tidak asing lagi di telinga saya, karena etika-etika tersebut sudah menjadi motto bersama para pecinta alam.

Dalam memandu kami mas Yos dibantu oleh seorang dari Mapala Trabas yang bertugas membawa perlengkapan keselamatan caving antara lain tali, tali webbing,seat harnesscarabiner dan lain-lain. Semuanya sudah siap dan berjalanlah kami menuju pintu masuk Objek Wisata Goa Petruk, 21 orang dari rombongan Patrapala berjalan di depan kami.

Caving Goa Petruk

Di depan pintu masuk Objek Wisata Goa Petruk berdiri terbentang peta wisata Goa Petruk lengkap dengan keterangan aliran sendang (mata air), aliran sungai dan objek batu-batuan. Dari pintu masuk kami harus berjalan mengikuti tangga buatan, rindangnya pepohonan di kiri dan di kanan jalan menjadikan perjalanan terasa sejuk. Di kiri jalan terlihat air terjun kecil mengalir ke dasar jurang, di sepanjang jalan juga terdapat tempat-tempat istirahat. Lima belas menit yang melelahkan akhirnya sampai juga kami di mulut Goa Petruk.

Mulut Gua Petruk
Cahaya surya di mulut goa perlahan pudar sejauh langkah kaki kami menyusuri lorong-lorong goa. Goa  horizontal sedalam 644 meter yang secara administratif terletak di Dukuh Mandayana, Desa Candirenggo, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen Jawa Tengah ini masih sangat alami, tak ada penerangan sama sekali di dalamnya. Goa yang menyimpan banyak ornamen-ornamen berupa stalagtit,
stalagmit dan flowstone yang akan terus dijaga kealamiannya. Penamaan Goa Petruk itu sendiri diambil dari nama tokoh pewayangan Petruk, konon di goa ini terdapat batu yang menyerupai hidung mancung tokoh wayang Petruk tapi karena ulah Belanda yang melakukan penambangan phosfat sehingga batu yang menyerupai hidung mancung Petruk itu patah dan sekarang sudah tidak terlihat lagi.

Masuk sedikit ke dalam menelisik kegelapan kami disambut stalagtit Tirai Pintu, seolah menjadi pembatas antara dunia gelap dan dunia luar yang bercahaya. Di sini mas Yos mengajak kami untuk meresapi kegelapan, mematikan semua sumber cahaya yang kami bawa. Dalam gelap kami mensyukuri atas nikmat penglihatan dan panca indera mata yang Allah SWT berikan. Berjalan terus ke dalam melewati aliran sungai setinggi kurang lebih sepuluh sentimeter, di kanannya terdapat jalan yang sengaja ditutup oleh pagar besi. Awalnya saya mengira pagar besi itu sengaja dipasang untuk pegangan kita saat melewati aliran sungai tapi ternyata pagar besi itu sengaja untuk menutup jalan menuju lorong aliran sungai. Dalam sorotan headlamp saya terus mencari keindahan disetiap sudut goa, tak jauh dari saya berdiri ada papan bertuliskan cat merah dengan tulisan Sendang Katak. Diantara cekungan batu yang bertingkat-tingkat terdapat genangan mata air, konon dulu di tempat itu banyak kataknya sehingga dinamakan Sendang Katak.

Semakin jauh berjalan, tak hanya suara gemericik aliran sungai ataupun tetesan air yang terdengar tapi bau pesing kotoran kelelawarpun mulai tercium. Di dinding goa anak-anak kelelawar bergelantungan dan beterbangan, saya berjalan cepat melewatinya. Di depan terlihat dua batu putih tinggi mencolok dalam sorotan lampu petromaks namanya batu Lukar Busono , di tengah-tengahnya dari atas mengalir air yang konon bagi yang mempercayainya air tersebut dapat membuat awet muda ataupun dapat menyembuhkan penyakit. Saat kami melewatinya ada empat orang duduk di depan batu Lukar Busono ditemani pemandu yang membawa petromaks, entahlah apa yang mereka lakukan.

Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri lorong lebih dalam lebih masuk ke dalam perut bumi, aneka stalagtit, stalagmit dan flowstone mengisi setiap ruang goa. Mereka sambung menyambung tak berjedah menghiasi setiap sudut goa. Ada Flowstone Otak bentuknya bulat putih mirip sekali dengan otak, Flowstone Usus bentuknyapun eksotis sangat mirip dengan usus. Bergerak ke depan dan kami menemukan Flowstone Air Mancur. 
Flowston otak
Flowstone pada awalnya terbentuk melalui lapisan yang encer secara perlahan-lahan di dasar atau lantai gua, kemudian lapisan yang tipis tadi menebal melalui tetesan air yang membawah mineral penyusun (kalsit serta mineral karbonat lainnya) hingga menebal dan membentuk ornamen-ornamen seperti Flowstone Otak, Flowstone Usus dan Flowstone Air Mancur tadi. Sayapun harus berjalan hati-hati karena banyak stalagmit yang tumbuh di lantai goa, pertumbuhannyapun masih pendek sehingga saya tidak ingin sampai menginjaknya.

Perjalanan tidak sampai di sini berikutnya kami harus berjalan melewati genangan air dari aliran sungai bawah tanah dengan ketinggian kurang dari lima puluh sentimeter. Berpegangan pada dinding goa kami harus menyeberanginya dengan hati-hati, berjalan sedikit merunduk karena atap goa yang dipenuhi stalagtit bisa mengenai kepala kita.
Menyeberangi aliran sungai bawah laut
Berjalan terus dan saya melewati papan bertuliskan Jangan Menyentuh Batu Payudara, stalagtit-stalagtit yang kami lewati maaf bentuknya mirip payudara. Sebenarnya tidak hanya Batu Payudara yang tidak boleh disentuh, semua stalagtit, stalagmit dan flowstone yang ada di dalam goa memang tidak boleh kita sentuh karena tangan kita yang didominasi oleh zat asam akan menghambat pertumbuhan stalagtit, stalagmit ataupun flowstone.  Butuh waktu bertahun-tahun lamanya untuk stalagtit, stalagmit dan flowstone tersebut tumbuh, menyentuhnya sama artinya kita menghancurkan karya indah Tuhan. Selanjutnya kami harus melewati dan menaiki celah lubang kecil untuk menuju ke tingkatan goa berikutnya, rasanya lega karena sudah tidak melewati genangan air lagi sudah bisa menghirup udara yang tidak pengap lagi. Ternyata saya keliru di depan jalan yang harus kami lewati adalah berjalan miring dan merunduk diapit antara dinding-dinding goa, celah diantara dinding-dindingnya pun sangat sempit sehingga kami harus antri untuk melewatinya.

Batu Lonceng
Tak terlihat lagi adanya stalagtit, stalagmit ataupun flowstone yang cantik, hanya ada dinding-dinding goa dengan batuan besar seolah-olah menghalangi langkah kami. Terus berjalan beriringan langkah kaki kami berikutnya menyusuri dinding goa di bawahnya ada aliran sungai mengalir.
Sampai akhirnya kami menemukan genangan air atau aliran sungai yang cukup besar, di atasnya stalagtit-stalagtit menghiasi atap goa dan di sini kami harus berjalan jongkok  dengan ketinggian air kurang lebih lima puluh sentimeter. Stalagtit- stalagtit yang menggantung di atap goa bentuknya cantik-cantik dengan tetesan air menghiasi pada ujung-ujungnya dan berkilau bila tersorot lampu. Berjalan terus di ujung aliran air ini terdapat stalagtit berbentuk lonceng dengan kucuran air mengalir di pinggir-pinggirnya mirip seperti shower  dan kami cukup lama di sini untuk antri berfoto.

Aliran sungai sudah kami lewati, di depan berikutnya kami harus berjalan merangkak melewati celah dinding dengan ketinggian kurang dari satu meter dan panjang kurang dari dua meter, beruntunglah medan yang ditempuh tak terlalu panjang. Pemandangan stalagtit dan stalagmit putih besar laksana pilar-pilar penyangga gedung bertingkat terbentang menyambut kami, dengan hati-hati kami melewati diantara celah-celahnya.
Masuk dari mulut Gua Petruk dan keluar di mulut Gua Jemblongan
Sorotan cahaya kini dapat kami tangkap dari kejauhan itu artinya mulut goa sudah ada di depan kami, puas berfoto-foto dalam sorotan cahaya surya berikutnya kami harus melewati atau menaiki batu-batuan besar menuju mulut Goa Jemblongan. Tak sabar rasanya ingin menghirup udara luar dan hembusan angin dari pepohonan di sekeliling mulut goa. Akhirnya bisa bernapas lega setelah satu setengah jam lamanya menyusuri lorong-lorong Goa Petruk dengan suguhan keindahan aneka stalagtit, stalagmit dan flowstone.

Sebelum melanjutkan perjalanan menuju Goa Liyah kami istirahat dulu di atas mulut Goa Jemblongan, meluruskan kaki sambil menikmati bekal makanan dan minuman yang kami bawa. Ramai terdengar obrolan dan candaan dari rombongan Patrapala, semuanya masih bersemangat melanjutkan perjalanan menuju Goa Liyah.

Caving Goa Liyah

Jarak tempuh kurang lebih satu jam dari mulut Goa Jemblongan ke Goa Liyah harus kami tempuh melewati semak belukar. Sampailah kami pada rumah penduduk dan ternyata jumlahnya hanya kurang lebih lima rumah. Beristirahat sejenak di teras salah satu rumah penduduk, di rumah yang lain pintu rumah mereka terbuka dan mereka menyediakan air minum untuk kami. Bahkan salah satu dari penduduk mempersilahkan kami memetik buah salak yang tumbuh di pekarangan rumah mereka. Dari rumah penduduk saya berjalan mengikuti sebagian rombongan belok ke kiri, rombongan yang lainnya berteriak karena kami salah jalan.

Heeey mau ke mana?” rombongan lain menegur kami yang salah jalan.

Sadar bahwa kami salah jalan kemudian balik arah mengikuti langkah rombongan lainnya. Saat mencari jalan diantara rumah penduduk lagi-lagi rombongan di depan kami juga salah jalan, teriakan seorang ibu menyadarkan kami dan diikuti gelak tawa bahwa mereka pun salah jalan. Berikutnya jalanan lurus diantara semak-semak, sambil terus berjalan saya masih memikirkan rumah penduduk tadi sempat heran juga di tengah-tengah perkebunan bahkan seperti hutan jauh dari desa ada juga rumah penduduk, Patricia pun sempat kahwatir kalau anak-anak mereka sakit mereka harus jauh pergi ke desa untuk berobat.

Itu kalau malam ada anak mereka sakit gimana ya? ujar Patricia penuh kahwatir dan tanda tanya.

Anak-anak mereka sekolahnya di mana ya?” tambah saya penasaran.

Pertanyaan yang sama-sama tidak bisa kami jawab dan hanya menerka-nerka jawabannya. Di kiri jalan  terlihat bukit kars dengan batuan putih terlihat jelas, mungkin di sana ada goa tebak saya dalam hati. Terus berjalan di depan terlihat jalan setapak yang bisa dilalui motor dan mobil.
Istirahat sebelum treking menuju mulut Gua Liyah
Sambil menunggu rombongan yang tertinggal kami istirahat duduk di bawah pohon jati, kemudian melanjutkan perjalanan melewati jalan setapak sejauh kurang lebih lima puluh meter. Di kanan jalan di antara semak-semak di sanalah mulut Goa Liyah. Dari jalan memang tak terlihat sama sekali mulut goa karena terhalang oleh semak-semak, lagi-lagi pertanyaan yang dilontarkan Patricia tidak bisa saya jawab.

Siapa sih yang pertama kali menemukan ada goa di tempat ini? tanya Patricia kagum.

Tak seperti Goa Petruk dengan mulut goanya yang terbuka lebar, mulut  Goa Liyah justru sangat kecil dan kami harus antri  untuk masuk. Berjalan terus masuk lebih ke dalam kami harus melewati celah kecil berjalan miring dalam himpitan diantara dinding-dinding goa dan batu-batuan besar.
Mulut Gua Liyah 1
Terus berjalan tak ada stalagtit, stalagmit ataupun flowstone berbentuk menyerupai simbol-simbol dalam kehidupan yang kami temui, hanya ada batu-batu besar seakan menghalangi langkah kami. Batu pualam berkilau indah menempel di dinding-dinding goa, ruang goanya pun besar tak terkesan pengap. Kami harus berjalan hati-hati karena masih banyak lubang-lubang sisa penambangan phosfat yang dibiarkan terbuka begitu saja. 

Jalanan yang becek dan berlumpur semakin memperlambat langkah kami, jika tak hati-hati bisa terjerembab dan jatuh ke lumpur. Itulah yang saya alami, kaki kanan saya sulit untuk melangkah karena lengket dan pekatnya lumpur yang menempel di boots dan ketika saya berusaha mengangkat kaki kiri justru badan saya tak seimbang, untunglah dengan sigap kedua tangan saya tempelkan ke lantai goa untuk menahan badan supaya tak jatuh ke lumpur. Penuh hati-hati saya berusaha menyusul rombongan.

Biasanya rombongan Patrapala berjalan sangat cepat tapi di depan terlihat semuanya berhenti, penasaran juga kenapa jadi macet di jalan. Sambil mencondongkan badan saya berusaha mencari tahu ada apa di depan dan ternyata semua harus antri untuk melewati lubang kecil dan berjalan tiarap seperti cicak, hanya cara itu yang bisa dilakukan untuk bisa melewatinya.
Melewati celah kecil
Tiba giliran saya untuk melewatinya, sambil merebahkan badan dengan posisi telungkup penuh hati-hati saya menggerakkan tangan dan badan. Tak lama kemudian kepala sudah dapat saya tengadahkan, ternyata panjangnya tak mencapai dua meter. Struktur Goa Liyah memang sangat berbeda dengan Goa Petruk, stalagtit-stalagtit menggantung bentuknya besar-besar, batu-batuan besar menjadikan dinding goa seperti lorong antara gedung-gedung bertingkat di perkotaan. Rasa takjub begitu kami melewatinya dan sayang kalau tak berfoto di sana dan mengabadikannya dalam jepretan lensa, ternyata kami sudah tertinggal jauh dari rombongan Patrapala  Pertamina Cilacap dan mas Yos menghampiri kami takut kalau kami tertinggal jauh dan tak tau jalan.

Ayo kalian sudah tertinggal jauh dari rombongan Pertamina, Budi mana? ucap mas Yos melihat kami yang hanya diam berdiri dan tak melihat mas Budi diantara kami.

Sebentar mas masih ada dua orang tertinggal dibelakang, mas Budi lagi menyusul yang di belakang, jawab salah satu dari kami.

Setelah dipastikan jumlah rombongan kami lengkap tujuh orang bergegas kami menyusul rombongan Patrapala Pertamina Cilacap yang sudah berjalan jauh. Saat kami menemukannya, mereka sedang duduk-duduk dan ternyata antri untuk menuruni tebing. Caving Goa Liyah memang lebih menantang dibandingkan Goa Petruk, di sini diperlukan peralatan keselamatan caving serta pemandu yang berpengalaman. Sebagian dari rombongan Patrapala Pertamina Cilacap sudah ada di bawah dan kini giliran perempuan yang didahulukan untuk menuruninya. Saya pun beranjak dari duduk saya dan antri di barisan perempuan.

Perempuan-perempuan duluan yang turun,” teriak salah satu dari rombongan Patrapala Pertamina Cilacap.

Sambil antri saya memperhatikan cara menuruni tebing itu, dan kini giliran saya yang harus turun. Ada tiga tingkatan tebing yang harus saya lalui, dengan serius saya mendengarkan arahan dari Instruktur supaya saya tak celaka dan bisa melaluinya dengan baik.
Rapelling di dalam Gua Liyah
''Pegang tali webbingnya Mba trus turun sambil ulur talinya, jelas salah satu instruktur dari Patrapala Pertamina Cilacap.


Dengan kencang saya menggenggam tali webbing kemudian mengulurnya sambil turun, di sini saya sempat panik ketika melewati bagian tali webbing yang licin sedangkan saya tidak memakai sarung tangan, tapi tali webbing tetap saya genggam kencang. Suara-suara Instruktur terus mengarahkan gerak saya.

Liat terus ke bawah dan kaki cari injakan, ya terus turun jangan lepas talinya, teriak Instruktur mengarahkan gerak saya.

Kaki saya akhirnya bisa menyentuh lantai, satu tingkatan sudah saya lalui dengan ketingginan kurang lebih tiga meter dan sudah ada satu Instruktur yang berjaga di sini siap membantu dan mengarahkan untuk langkah berikutnya.

Turun terus jangan lepas talinya, pandangan terus ke bawah liat injakan, jelas Instruktur.

Dengan hati-hati saya menuruni tebing dengan tali webbing tetap saya genggam dan kaki terus mencari injakan, sampai akhirnya kaki ini bisa menyentuh lantai dan tali webbing sudah bisa saya lepaskan. Kemudian petugas yang lain menyuruh saya berjalan ke arah tebing berikutnya yang harus saya turuni tapi kali ini tanpa tali webbing karena tingginya hanya kurang lebih satu setengah meter. Di bawahnya sudah ada petugas yang siap membantu saya.

Duduk dulu Mba, kaki kanan injak yang ini dan pegang tangan saya,” jelas petugas siap membantu saya.

Menuruni bebatuan

Ikuti apa yang diarahkan petugas tersebut kemudian saya duduk, kaki kanan  berusaha menyentuh cekungan dinding dan menginjaknya untuk kemudian sambil dibantu petugas saya melompat untuk menyentuh lantai. Sebagian dari rombongan Patrapala Pertamina Cilacap yang telah berhasil menuruni tebing siap melanjutkan perjalanan, saya memilih duduk sambil menunggu rombongan yang masih di atas.

Tak sampai di sini, medan yang harus kami lalui berikutnya juga tak kalah menantang dan memacu adrenalin. Berjalan menyusuri dinding-dinding goa di bawahnya ada jurang terbentang, untuk bisa sampai ke bawah kami harus melewati batu-batuan yang ada di pinggir dinding goa.
Rapelling
Turun dan harus menuruni tebing lagi, saya tak bisa melihat kedalamannya dan kini kami telah berada di dalam perut bumi. Mas Yos dan beberapa Instruktur dari Patrapala Pertamina Cilacap sedang mempersiapkan peralatan keselamatan caving, beberapa orang terlihat sedang memakai seat harness dan siap untuk turun. Seperti sebelumnya perempuan-perempuan didahulukan untuk turun dan kami harus memakai seat harness dan kaos tangan terlebih dahulu. Dua orang dari Patrapala Pertamina Cilacap membantu saya memakai  seat harness,  saya  sempat gugup ini lebih sulit dari menuruni tebing sebelumnya. Bismillah memberanikan diri maju ke depan dan siap turun dan kini seat harness sudah dikaitkan ke tali. Saya simak baik-baik setiap arahan dari para Instruktur sambil berusaha tenang.

Tangan kiri pegang tali ini Mba,  posisinya selalu di depan badan dan tangan kanan pegang tali tapi posisinya di samping badan. Sekarang badannya direbahkan ke belakang posisinya seperti tidur,” beberapa Instruktur mengajari saya cara turun.

Saya ikuti apa yang dikatakan para Instruktur, dan tetap ikuti arahan berikutnya.

Ya sekarang turun pelan-pelan pandangan lihat ke bawah, ulur talinya posisi tangan kanan tetap di samping dan posisi badan tetap rebah, ucap Instruktur berkutnya.

Pelan-pelan kaki kanan saya turunkan, kedua tangan berusaha mengulur tali dengan posisi badan tetap rebah. Selanjutnya kaki saya mencari pijakan ke kanan, ternyata cara ini salah dan Instruktur yang di bawah teriak memberikan arahan.

Mba, kakinya tetap lurus dan tangan kanannya ke belakang,” teriakan suara dari Instruktur di bawah.

Sadar apa yang saya lakukan adalah salah cepat-cepat saya perbaiki dengan mengikuti arahan dari Instruktur tadi. 
Rapelling
Ternyata sangat mudah dan saya berhasil menuruni tebing yang tingginya kurang lebih enam meter tadi sampai ke lantai dasar. Satu persatu dari kami terutama para perempuan  telah melewatinya. Salah satu dari rombongan Patrapala Pertamina Cilacap meminta kami melanjutkan perjalanan, di depan mulut goa sudah dekat. Tak perlu menunggu rombongan yang masih ada di atas, lagi pula hari sudah sore.

Ada yang tahu jalan? kalau ada ajak yang lainnya pulang duluan, ucap salah satu dari rombongan Patrapala Pertamina Cilacap.

Saya pun bangkit dari duduk  kemudian mengikuti langkah rombongan menuju mulut goa. Jalan yang  kami lewati sangat licin, becek dan berlumpur. Dari kejauhan dalam kegelapan ada batu putih mencolok berkilau, Particia menunjuknya penuh kagum.

Lihat itu batunya putih berkilau, tunjuk Patricia.

Sepanjang jalan menuju mulut goa kami menemukan batu-batuan putih menempel di dinding berkilau bila terkena sorotan lampu, namanya batu kristal. 
Batu kristal
Sebenarnya di akhir caving masih ada satu tempat lagi yang akan kami kunjungi yaitu air terjun dalam goa. Berhubung kami harus segera pulang maka jalan menuju air terjun tersebut kami lewati begitu saja dan belok ke kiri menuju mulut goa. Suasana masih terang ketika kami sampai di mulut goa, mulut goanya sangat sempit dengan pintu teralis besi terbuka. Kurang lebih empat jam lamanya kami menyusuri Goa Liyah, mulai dari  berjalan di lumpur, berjalan tiarap melewati lubang kecil, berjalan miring diantara himpitan dinding-dinding goa sampai harus menuruni tebing yang curam. 


Anda tertarik untuk mencobanya?  temukan  keindahan  aneka stalagtit, stalagmit dan flowstone serta rasakan sensasi petualangannya.

Menyantap Campur Lorjuk Khas Pamekasan


Perjalanan liburan Imlek membawa kami ke “Pulau garam”, mengenal Madura yang ada dalam pikiran saya adalah Sate Madura. Wajah kota Pamekasan masih terlelap ketika kami melanjutkan perjalanan dari rumah mbak Arris tempat kami bermalam menuju desa Tanjung kecamatan Pademawu. Sengaja pagi-pagi buta kami datang ke desa Tanjung untuk memotret sunrise Pantai Jumiang. Ditemani secangkir kopi dengan sabar kami menunggu datangnya sunrise. Sepertinya cuaca mendung, suasana di Jumiang sudah terang tapi sunrise yang indah tak juga terlihat.

Dua jam berada di pantai rasa lapar mulai kami rasakan, mbak Arris mengajak kami sarapan Campur Lorjuk yang letaknya tak jauh dari Jumiang, dekat pasar Mongging desa Tanjung.

“Yuk kita sarapan campur lorjuk,” ajak mbak Arris dengan semangat.

Tanpa bertanya-tanya kami ikut saja ajakan mbak Arris, sepanjang jalan yang kami temui suasana pedesaan yang masih asri, di kiri dan kanan jalan di antara rumah penduduk terlihat sawah menghijau. Tak lama sampailah mobil yang membawa kami di halaman sebuah warung makan sederhana di pinggir jalan.

Di dapur terlihat dua orang perempuan sibuk menggoreng dan menyiapkan menu, tak terlihat ada pengunjung selain rombongan kami. Di luar ada dua bangku atau bale-bale bambu yang cukup lebar, muat untuk menampung rombongan kami. Di dinding tertempel sebuah papan nama sederhana dengan cat warna merah tulisan “Kuliner Campur Lorjuk Depahla”.

Rasa penasaran saya datang sebenarnya kami ini akan sarapan apa, saya pun bertanya kepada mbak Arris.

“Mbak Arris lorjuk itu makanan apa?”  tanya saya penasaran.

“Lorjuk itu sejenis kerang-kerangan,” jelas mbak Arris kepada saya.

Tak berapa lama datanglah semangkuk Campur Lorjuk, dengan seketika kami langsung mendekat. Rasa penasaran saya terjawab sudah, tersisa 15 mangkuk lagi pesanan kami yang belum datang. Sambil menunggu pesanan datang kami diperbolehkan masuk ke dapur melihat lorjuk yang masih mentah, bentuknya menyerupai kerang bambu, panjangnya kurang lebih 3 sentimeter. Lorjuk hidup di pantai berpasir atau berlumpur, banyak ditemui ketika air pantai surut.

Tidak sampai 30 menit satu per satu pesanan kami datang siap disantap. Campur Lorjuk terdiri dari potongan lontong, soun, tauge, peyek dan tentunya lorjuk itu sendiri. Kuahnya terbuat dari kaldu rebusan lorjuk dengan racikan bumbu-bumbu bawang merang, bawang putih, pala, jahe, merica, cabe merah dan garam, ditambah potongan daun bawang.

Tampilannya seperti soto, aroma dan rasanya gurih. Apalagi disantap dengan suasana pedesaan yang asri sambil memandang hijaunya sawah di seberang warung makan.

Pengunjung mulai berdatangan untuk sarapan Campur Lorjuk, sedangkan kami siap melanjutkan perjalanan setelah membayar per mangkuk Campur Lorjuk seharga Rp. 7.000. 

Menyambangi Kuburan Batu Unik di Tana Toraja

Hari sudah malam ketika mobil yang kami tumpangi memasuki kota Rantepao ibu kota Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Setelah berkeliling untuk mencari penginapan akhirnya menemukan wisma yang letaknya di pinggir jalan. Terlihat 2 orang penjaga wisma sedang duduk-duduk di depan pintu. Hanya tersisa 2 kamar yang masing-masing kamar dilengkapi 3 tempat tidur, pas sekali dengan rombongan kami yang jumlahnya 6 orang. Setelah cocok dengan harga yang ditawarkan dan melihat isi kamar, kami memutuskan memesan 2 kamar tersebut untuk bermalam.

Di kota Rantepao inilah biasanya wisatawan menjejakkan kakinya. Tersedia banyak penginapan di kota ini mulai dari hotel, wisma ataupun homestay dengan harga bervariasi. Selain itu destinasi-destinasi menarik di Toraja lebih banyak tersedia di Toraja Utara, sehingga lebih mudah untuk dicapai dari sini. Satu kali perjalanan kita bisa mengunjungi beberapa destinasi sekaligus kerena letaknya searah dan berdekatan. Untuk mencapainya pun sangat mudah, di pinggir jalan terpasang papan besar penunjuk arah yang disponsori oleh salah satu perusahaan operator seluler. Jalannya pun lebar mulus beraspal.

Secara administratif Tana Toraja terbagi menjadi dua yaitu, kabupaten Tana Toraja dengan ibu kota Makale dan kabupaten Toraja Utara dengan ibu kota Rantepao. Gerbang untuk menuju Tana Toraja dimulai dari  Makassar.  Dari Makassar kita bisa melanjutkan pejalanan ke Rantepao dengan menyewa mobil atau naik bis dengan jam keberangkatan pagi atau malam. Jalur darat ini dapat dapat ditempuh selama 7-10 jam dengan jarak sekitar 300 km. Selain jalur darat saat ini sudah tersedia penerbangan dari Bandara Hasanuddin Makassar ke Bandara Pontiku Tana Toraja yang memakan waktu sekitar 2 jam dengan pesawat casa 212.

Tana Toraja adalah perpaduan antara agama, adat istiadat, seni dan budaya yang berjalan selaras. Tana Toraja terkenal dengan upacara pesta kematian (Rambu Solo) dan kuburan batu. Hal ini yang menjadikan daya tarik wisatawan lokal bahkan tersohor sampai ke mancanegara. Di Tana Toraja upacara pesta kematian lebih meriah jika dibandingkan dengan pesta pernikahan. Orang Toraja menganggap bahwa kematian adalah hal yang sakral. Kematian adalah bukan akhir dari perjalanan hidup seseorang. Mereka percaya ketika meninggal, arwah seseorang akan melakukan perjalanan menuju tempat bernama Puya. Untuk mempermudah perjalanan arwah tersebut, keluarga yang ditinggalkan akan mempersembahkan atau menyembelih kerbau sebagai kendaraan dan babi sebagai makanan.

Tak heran jika keluarga yang ditinggalkan pun akan berusaha sekuat tenaga untuk mempersembahkan kerbau dan babi sebanyak mungkin, minimal 24 kerbau. Jumlah dari persembahan yang dikorbankan berpengaruh pada status sosial keluarga tersebut. Semakin banyak kerbau yang disembelih semakin tinggi status sosialnya. Sambil menunggu upacara pesta kematian (Rambu Solo), jenazah tersebut diawetkan dan dibaringkan di rumah selama berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan sampai puluhan tahun tergantung kesediaan keluarga untuk melaksanakan upacara Rambu Solo. Pada bulan Desember saat libur Natal atau libur Hari Raya Idul Fitri, keluarga yang merantau akan pulang ke Toraja. Saat itulah biasanya upacara Rambu Solo diadakan. Wisatawan pun akan datang untuk menyaksikan upacara unik tersebut. Upacara Rambu Solo memakan waktu berhari-hari dan biasanya diadakan pada siang hari.

Orang Toraja tidak menguburkan jenazah di dalam tanah, tapi di dalam batu. Mereka menganggap tanah adalah elemen suci yang menumbuhkan kehidupan, sehingga jenazah lebih baik disimpan di dalam batu. Saya melihat kondisi geografis Tana Toraja dikelilingi oleh bukit batu, sehingga hal ini pula yang menjadikan budaya ini ada.

Berkunjung ke Tana Toraja tak ubahnya seperti berziarah. Karena kami menyewa mobil dari Makassar, maka kami tak perlu lagi menyewa motor untuk berkeliling ke tempat tujuan wisata. Wisatawan yang datang dengan menumpangi bis biasanya akan menyewa motor. Motor sewaan ini dapat ditemukan di tempat kita menginap. Dari penginapan kami menuju ke arah Tenggara, tujuan wisata pertama yang kami kunjungi adalah Kete Kesu.

Kete Kesu

Kete Kesu adalah sebuah desa dengan potret lengkap Tana Toraja yang wajib dikunjungi. Dapat ditempuh selama 30 menit dengan jarak sekitar 4 km dari Rantepao. Di sini terdapat Desa Adat dan Kuburan Batu. Udaranya sejuk dikelilingi bukit batu dengan pohon rindang dan hamparan sawa menghijau. Untuk dapat mengelilingi Kete Kesu kami harus mengisi buku tamu, wisatawan lokal dikenakan tarif  Rp. 10.000 dan wisatawan mancanegara Rp. 20.000 . 

Terdapat sederetan rumah adat para leluhur (Tongkonan) yang berjajar saling menghadap. Tongkonan berdiri tinggi dengan konstruksi kayu, atap bangunannya terbuat dari susunan bambu yang dibelah. Bentuk bangunannya melengkung menyerupai perahu, pada dinding bangunan terdapat ukiran-ukiran sebagai eksterior yang menggambarkan simbol-simbol dari benda yang ada di sekitar kehidupan manusia. Saya melihat banyak Tongkonan  dihiasi ukiran ayam jantan pada bagian atas muka bangunan, ternyata hal ini melambangkan kepemimpinan yang arif dan bijaksana, dapat dipercaya oleh karena pintar, pemahaman dan intuisinya tepat serta selalu mengatakan apa yang benar.

Ada beberapa Tongkonan dihiasi ornamen tanduk kerbau, tanduk kerbau tersebut disusun dari bawah ke atas pada sebuat tiang di depan Tongkonan. Banyaknya tanduk kerbau menggambarkan status sosial pemiliknya ketika upacara Rambu Solo.





Upacara adat Toraja sering digelar di sini, mulai dari pemakaman adat yang dirayakan meriah (Rambu Solo), upacara memasuki rumah adat baru (Rambu Tuka) serta berbagai ritual lainnya.

Puas melihat Tongkonan, kami berjalan ke arah belakang rumah adat menuju bukit batu. Terlihat beberapa Tongkonan mewah milik seorang bangsawan, lengkap dengan patung kayu orang (Tau-Tau) yang menyerupai almarhum selama hidup, sekilas menyerupai foto.  Berjalan terus ke arah bukit di sana terdapat banyak pemakaman. Peti-peti mati diletakkan menggantung di tebing dengan disangga kayu, ada beberapa yang dibuatkan rumah papan. Di bawah bukit terdapat tumpukan tulang-tulang dan tengkorak manusia. Sadar bahwa saya sedang masuk ke pemakaman, saya memberi salam dengan membaca doa masuk ke pemakaman dan tak lupa mendoakan arwah yang ada di sana.





Bukit batu ini dapat kita naiki, karena pada dindingnya dibuatkan tangga. Sehingga kita bisa melihat dengan jelas peti mati yang tergantung tersebut. Rata-rata bentuk peti matinya menyerupai perahu, tapi ada juga yang berbentuk seperti kerbau atau hanya kotak biasa lengkap dengan ukiran yang menghiasinya. Diperkirakan umur peti mati ini sudah ratusan tahun, hal ini terlihat banyak peti mati yang kondisinya sudah hancur. Terlihat tulang-tulang di dalam peti tersebut, bahkan ada tengkorak yang diletakkan di atas peti mati. Pada dinding bukit terlihat juga lubang-lubang yang ditutup teralis besi hal ini katanya untuk menghindari pencurian terhadap Tau-Tau, di luarnya tergantung peti mati yang hampir hancur.

Menaiki tangga di ujungnya akan kita temui mulut goa, sayangnya goa tersebut di tutup oleh teralis besi. Menurut penjaga bernama Nathan yang saya temui di sana, goa tersebut terhubung dengan sebuah benteng peninggalan masa perjuangan melawan penjajah. Di dalam goa tersebut terdapat banyak makam. Di pintu masuk goa, di atas batu ada makam salah satu atlit renang asal Tana Toraja yang pernah ikut Pekan Olah Raga Nasional (PON). Di antara tulang-tulangnya terdapat beberapa botol minuman, rokok dan kartu identitas serta foto yang dicetak besar. Keluarga yang berkunjung biasanya akan membawakan barang-barang yang disukai almarhum selama hidup.

Londa

Londa adalah salah satu pemakaman goa yang paling populer menjadi tujuan wisata. Terletak di desa Sandan Uai kecamatan Sanggali. Lokasinya kurang lebih 7 km dari Rantepao. Dari kejauhan terlihat bukit batu yang dirimbuni pepohonan, di sanalah peti-peti mati tersebut di makamkan. Londa adalah pemakaman khusus untuk satu marga saja yaitu marga Tolengke.




Melihat lebih dekat ke bukit batu tersebut, terlihat tumpukan peti mati (Erong) tergantung di tebing curam dengan hanya disangga oleh kayu. Erong biasanya diisi oleh jenazah satu keluarga. Pengaturan penempatan Erong pun dikelompokkan berdasarkan garis keluarga. Semakin tinggi Erong ditempatkan di bukit, maka semakin tinggi status sosialnya dalam masyarakat.

Di tebing yang curam itu terlihat sederetan patung kayu orang (Tau-Tau) yang diletakkan di dalam etalase kayu tanpa kaca. Tau-Tau adalah kayu yang diukir dan dipahat semirip mungkin dengan jenazah yang dimakamkan di sana lengkap dengan pakaiannya. Hanya dari golongan bangsawanlah yang dapat dibuatkan Tau-Tau dan dipasang di etalase tersebut.



Di bukit batu tersebut terdapat dua buah pintu masuk goa yang saling terhubung. Untuk bisa melihat isi goa kita perlu alat penerang. Kami pun menyewa jasa pembawa lampu petromaks yang merangkap sebagai pemandu wisata dengan tarif Rp. 30.000. Kontur goanya dilengkapi dengan stalagtit dan stalagmit yang cantik. Masuk ke dalam goa berhati-hatilah karena ada stalagtit (batu kapur yang tumbuh dari atas goa ke dasar goa) yang tingginya hampir menyentuh dasar goa, sehingga kita perlu berjalan sambil menunduk. 

Udara di dalam goa sangat lembab, dingin tapi tidak berbau. Menelusuri ke dalam goa, terdapat banyak tulang-tulang dan tengkorak manusia tergeletak di dasar goa.  Terlihat sederetan tengkorak yang diletakkan di atas batu, ada juga yang diselipkan diantara celah-celah batu. Di sudut lain terlihat tumpukan peti mati yang disusun dan dikelompokkan berdasarkan garis keturunan. Cara mereka meletakkan peti mati pun unik yaitu diselipkan di antara celah-celah batu. Hanya jenazah yang sudah tumbuh gigi saja yang dimakamkan di Londa, sedangkan jenazah yang belum tumbuh gigi dimakamkan di dalam pohon atau digantung dengan tali di sisi tebing, hal ini karena mereka percaya adanya reingkarnasi.

Peti mati yang baru dimakamkan biasanya ditutup dengan kain putih atau dengan plastik putih transparan, saat kami berkunjung peti mati terbaru adalah jenazah yang meninggal tahun 2010. Pak Sampe sang pemandu kami mengingatkan agar kami tidak menyentuh peti mati atau memindahkan tulang dan tengkorak tanpa seizin adat. Jika hal ini terjadi maka perlu dilakukan upacara Rambu Solo.  Sama halnya mengganti peti yang sudah hancur dengan peti mati baru harus dilakukan upacara Rambu Solo. Dapat dipahami  mengapa tengkorak dan tulang-taulangnya dibiarkan tergeletak begitu saja. Sedangkan untuk sekedar mengambil foto diperbolehkan. 



Pak Sampe menunjuk ke salah satu tempat di dasar goa, di sana terdapat 2 buah tengkorak lengkap dengan tulang-tulangnya. Ini seperti kisah Romeo dan Juliet, mereka mengakhiri hidupnya dengan cara menggantungkan diri di pohon. Hubungan percintaan mereka tidak disetujui keluarga dikarenakan mereka masih memiliki hubungan kerabat. Ironis memang, setelah meninggal justru jenazah mereka bisa dimakamkan berdampingan.

Lemo

Untuk mencapai Lemo jaraknya sekitar 12 km di selatan Rantepao, dapat ditemukan dengan mudah karena di pinggir jalan terpasang papan besar penunjuk arah. Pemakaman Lemo letaknya di atas bukit batu, di bawahnya terdapat petak-petak sawah hijau menggambarkan alam pedesaan yang masih asri. Untuk menuju ke bukit batu tersebut kita harus melewati pematang sawah. Lemo adalah kuburan batu tertua nomor dua di Tana Toraja, sedangkan kuburan batu tertua adalah Songgi Patolo. Lemo diperkirakan sudah ada sejak abad ke-16.



Dinamakan Lemo karena bukit batu tersebut bentuknya bulat menyerupai jeruk limau. Saya melihat Lemo sangat berbeda dengan kuburan batu lainnya. Jika di kuburan batu lainnya kita bisa melihat peti-peti mati digantung di tebing, maka di Lemo peti-peti mati tersebut dimasukkan ke dalam lubang batu dengan tangga atau ditarik dengan tali. Ukuran lubangnya pun cukup besar, sekitar 3 meter kali  5 meter. Untuk membuat lubang ini dibutuhkan biaya yang cukup besar, karena lubang tersebut dibuat dengan cara memahat bukit batu secara manual. Waktu yang dibutuhkan bisa mencapai 6 bulan atau bahkan 1 tahun.

Dalam satu lubang diisi oleh makam satu keluarga. Dari luar yang terlihat hanya pintu lubangnya saja yang ditutup dengan papan kayu. Terlihat sederetan patung kayu (Tau-Tau) diletakkan di beberapa lubang. Di bukit batu ini terdapat sekitar 75 lubang dan 40 buah Tau-Tau. Adanya Tau-Tau menunjukkan bahwa ini adalah pemakaman kaum bangsawan. Sebelum di makamkan di Lemo jenazah mereka pun melalui proses upacara Rambu Solo.



Meskipun untuk menuju Tana Toraja saya harus menempuh perjalanan jauh berjam-jam, tapi perjalanan ini sangat saya nikmati. Jika kita melakukan perjalanan siang hari kita bisa mampir ke objek wisata lain di kabupaten yang kita lewati. Apalagi ketika memasuki kabupaten  Enrekang, meskipun jalannya berliku-liku tapi pemandangan alamnya sangat indah. Ada Gunung Buttu Kabobong dan dikenal dengan nama Gunung Nona yang menurut saya sangat indah dan unik.

- Copyright © Jalan-jalan Asik - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -