Pengikut

Total Pembaca

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

About me

Melancong dari satu kota ke kota lain adalah kesukaanku. Melihat keindahan alam, mendaki gunung, main di pantai dan mengunjungi situs-situs budaya. Semua kisah perjalanan itu, kutulis dan kurangkai dalam blog pribadi.

Semoga isi dari blog ini menginspirasi dan memberikan informasi yang berguna.

Laman

Like us on Facebook

Archive for 2013

Menyambangi Kuburan Batu Unik di Tana Toraja

Hari sudah malam ketika mobil yang kami tumpangi memasuki kota Rantepao ibu kota Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Setelah berkeliling untuk mencari penginapan akhirnya menemukan wisma yang letaknya di pinggir jalan. Terlihat 2 orang penjaga wisma sedang duduk-duduk di depan pintu. Hanya tersisa 2 kamar yang masing-masing kamar dilengkapi 3 tempat tidur, pas sekali dengan rombongan kami yang jumlahnya 6 orang. Setelah cocok dengan harga yang ditawarkan dan melihat isi kamar, kami memutuskan memesan 2 kamar tersebut untuk bermalam.

Di kota Rantepao inilah biasanya wisatawan menjejakkan kakinya. Tersedia banyak penginapan di kota ini mulai dari hotel, wisma ataupun homestay dengan harga bervariasi. Selain itu destinasi-destinasi menarik di Toraja lebih banyak tersedia di Toraja Utara, sehingga lebih mudah untuk dicapai dari sini. Satu kali perjalanan kita bisa mengunjungi beberapa destinasi sekaligus kerena letaknya searah dan berdekatan. Untuk mencapainya pun sangat mudah, di pinggir jalan terpasang papan besar penunjuk arah yang disponsori oleh salah satu perusahaan operator seluler. Jalannya pun lebar mulus beraspal.

Secara administratif Tana Toraja terbagi menjadi dua yaitu, kabupaten Tana Toraja dengan ibu kota Makale dan kabupaten Toraja Utara dengan ibu kota Rantepao. Gerbang untuk menuju Tana Toraja dimulai dari  Makassar.  Dari Makassar kita bisa melanjutkan pejalanan ke Rantepao dengan menyewa mobil atau naik bis dengan jam keberangkatan pagi atau malam. Jalur darat ini dapat dapat ditempuh selama 7-10 jam dengan jarak sekitar 300 km. Selain jalur darat saat ini sudah tersedia penerbangan dari Bandara Hasanuddin Makassar ke Bandara Pontiku Tana Toraja yang memakan waktu sekitar 2 jam dengan pesawat casa 212.

Tana Toraja adalah perpaduan antara agama, adat istiadat, seni dan budaya yang berjalan selaras. Tana Toraja terkenal dengan upacara pesta kematian (Rambu Solo) dan kuburan batu. Hal ini yang menjadikan daya tarik wisatawan lokal bahkan tersohor sampai ke mancanegara. Di Tana Toraja upacara pesta kematian lebih meriah jika dibandingkan dengan pesta pernikahan. Orang Toraja menganggap bahwa kematian adalah hal yang sakral. Kematian adalah bukan akhir dari perjalanan hidup seseorang. Mereka percaya ketika meninggal, arwah seseorang akan melakukan perjalanan menuju tempat bernama Puya. Untuk mempermudah perjalanan arwah tersebut, keluarga yang ditinggalkan akan mempersembahkan atau menyembelih kerbau sebagai kendaraan dan babi sebagai makanan.

Tak heran jika keluarga yang ditinggalkan pun akan berusaha sekuat tenaga untuk mempersembahkan kerbau dan babi sebanyak mungkin, minimal 24 kerbau. Jumlah dari persembahan yang dikorbankan berpengaruh pada status sosial keluarga tersebut. Semakin banyak kerbau yang disembelih semakin tinggi status sosialnya. Sambil menunggu upacara pesta kematian (Rambu Solo), jenazah tersebut diawetkan dan dibaringkan di rumah selama berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan sampai puluhan tahun tergantung kesediaan keluarga untuk melaksanakan upacara Rambu Solo. Pada bulan Desember saat libur Natal atau libur Hari Raya Idul Fitri, keluarga yang merantau akan pulang ke Toraja. Saat itulah biasanya upacara Rambu Solo diadakan. Wisatawan pun akan datang untuk menyaksikan upacara unik tersebut. Upacara Rambu Solo memakan waktu berhari-hari dan biasanya diadakan pada siang hari.

Orang Toraja tidak menguburkan jenazah di dalam tanah, tapi di dalam batu. Mereka menganggap tanah adalah elemen suci yang menumbuhkan kehidupan, sehingga jenazah lebih baik disimpan di dalam batu. Saya melihat kondisi geografis Tana Toraja dikelilingi oleh bukit batu, sehingga hal ini pula yang menjadikan budaya ini ada.

Berkunjung ke Tana Toraja tak ubahnya seperti berziarah. Karena kami menyewa mobil dari Makassar, maka kami tak perlu lagi menyewa motor untuk berkeliling ke tempat tujuan wisata. Wisatawan yang datang dengan menumpangi bis biasanya akan menyewa motor. Motor sewaan ini dapat ditemukan di tempat kita menginap. Dari penginapan kami menuju ke arah Tenggara, tujuan wisata pertama yang kami kunjungi adalah Kete Kesu.

Kete Kesu

Kete Kesu adalah sebuah desa dengan potret lengkap Tana Toraja yang wajib dikunjungi. Dapat ditempuh selama 30 menit dengan jarak sekitar 4 km dari Rantepao. Di sini terdapat Desa Adat dan Kuburan Batu. Udaranya sejuk dikelilingi bukit batu dengan pohon rindang dan hamparan sawa menghijau. Untuk dapat mengelilingi Kete Kesu kami harus mengisi buku tamu, wisatawan lokal dikenakan tarif  Rp. 10.000 dan wisatawan mancanegara Rp. 20.000 . 

Terdapat sederetan rumah adat para leluhur (Tongkonan) yang berjajar saling menghadap. Tongkonan berdiri tinggi dengan konstruksi kayu, atap bangunannya terbuat dari susunan bambu yang dibelah. Bentuk bangunannya melengkung menyerupai perahu, pada dinding bangunan terdapat ukiran-ukiran sebagai eksterior yang menggambarkan simbol-simbol dari benda yang ada di sekitar kehidupan manusia. Saya melihat banyak Tongkonan  dihiasi ukiran ayam jantan pada bagian atas muka bangunan, ternyata hal ini melambangkan kepemimpinan yang arif dan bijaksana, dapat dipercaya oleh karena pintar, pemahaman dan intuisinya tepat serta selalu mengatakan apa yang benar.

Ada beberapa Tongkonan dihiasi ornamen tanduk kerbau, tanduk kerbau tersebut disusun dari bawah ke atas pada sebuat tiang di depan Tongkonan. Banyaknya tanduk kerbau menggambarkan status sosial pemiliknya ketika upacara Rambu Solo.





Upacara adat Toraja sering digelar di sini, mulai dari pemakaman adat yang dirayakan meriah (Rambu Solo), upacara memasuki rumah adat baru (Rambu Tuka) serta berbagai ritual lainnya.

Puas melihat Tongkonan, kami berjalan ke arah belakang rumah adat menuju bukit batu. Terlihat beberapa Tongkonan mewah milik seorang bangsawan, lengkap dengan patung kayu orang (Tau-Tau) yang menyerupai almarhum selama hidup, sekilas menyerupai foto.  Berjalan terus ke arah bukit di sana terdapat banyak pemakaman. Peti-peti mati diletakkan menggantung di tebing dengan disangga kayu, ada beberapa yang dibuatkan rumah papan. Di bawah bukit terdapat tumpukan tulang-tulang dan tengkorak manusia. Sadar bahwa saya sedang masuk ke pemakaman, saya memberi salam dengan membaca doa masuk ke pemakaman dan tak lupa mendoakan arwah yang ada di sana.





Bukit batu ini dapat kita naiki, karena pada dindingnya dibuatkan tangga. Sehingga kita bisa melihat dengan jelas peti mati yang tergantung tersebut. Rata-rata bentuk peti matinya menyerupai perahu, tapi ada juga yang berbentuk seperti kerbau atau hanya kotak biasa lengkap dengan ukiran yang menghiasinya. Diperkirakan umur peti mati ini sudah ratusan tahun, hal ini terlihat banyak peti mati yang kondisinya sudah hancur. Terlihat tulang-tulang di dalam peti tersebut, bahkan ada tengkorak yang diletakkan di atas peti mati. Pada dinding bukit terlihat juga lubang-lubang yang ditutup teralis besi hal ini katanya untuk menghindari pencurian terhadap Tau-Tau, di luarnya tergantung peti mati yang hampir hancur.

Menaiki tangga di ujungnya akan kita temui mulut goa, sayangnya goa tersebut di tutup oleh teralis besi. Menurut penjaga bernama Nathan yang saya temui di sana, goa tersebut terhubung dengan sebuah benteng peninggalan masa perjuangan melawan penjajah. Di dalam goa tersebut terdapat banyak makam. Di pintu masuk goa, di atas batu ada makam salah satu atlit renang asal Tana Toraja yang pernah ikut Pekan Olah Raga Nasional (PON). Di antara tulang-tulangnya terdapat beberapa botol minuman, rokok dan kartu identitas serta foto yang dicetak besar. Keluarga yang berkunjung biasanya akan membawakan barang-barang yang disukai almarhum selama hidup.

Londa

Londa adalah salah satu pemakaman goa yang paling populer menjadi tujuan wisata. Terletak di desa Sandan Uai kecamatan Sanggali. Lokasinya kurang lebih 7 km dari Rantepao. Dari kejauhan terlihat bukit batu yang dirimbuni pepohonan, di sanalah peti-peti mati tersebut di makamkan. Londa adalah pemakaman khusus untuk satu marga saja yaitu marga Tolengke.




Melihat lebih dekat ke bukit batu tersebut, terlihat tumpukan peti mati (Erong) tergantung di tebing curam dengan hanya disangga oleh kayu. Erong biasanya diisi oleh jenazah satu keluarga. Pengaturan penempatan Erong pun dikelompokkan berdasarkan garis keluarga. Semakin tinggi Erong ditempatkan di bukit, maka semakin tinggi status sosialnya dalam masyarakat.

Di tebing yang curam itu terlihat sederetan patung kayu orang (Tau-Tau) yang diletakkan di dalam etalase kayu tanpa kaca. Tau-Tau adalah kayu yang diukir dan dipahat semirip mungkin dengan jenazah yang dimakamkan di sana lengkap dengan pakaiannya. Hanya dari golongan bangsawanlah yang dapat dibuatkan Tau-Tau dan dipasang di etalase tersebut.



Di bukit batu tersebut terdapat dua buah pintu masuk goa yang saling terhubung. Untuk bisa melihat isi goa kita perlu alat penerang. Kami pun menyewa jasa pembawa lampu petromaks yang merangkap sebagai pemandu wisata dengan tarif Rp. 30.000. Kontur goanya dilengkapi dengan stalagtit dan stalagmit yang cantik. Masuk ke dalam goa berhati-hatilah karena ada stalagtit (batu kapur yang tumbuh dari atas goa ke dasar goa) yang tingginya hampir menyentuh dasar goa, sehingga kita perlu berjalan sambil menunduk. 

Udara di dalam goa sangat lembab, dingin tapi tidak berbau. Menelusuri ke dalam goa, terdapat banyak tulang-tulang dan tengkorak manusia tergeletak di dasar goa.  Terlihat sederetan tengkorak yang diletakkan di atas batu, ada juga yang diselipkan diantara celah-celah batu. Di sudut lain terlihat tumpukan peti mati yang disusun dan dikelompokkan berdasarkan garis keturunan. Cara mereka meletakkan peti mati pun unik yaitu diselipkan di antara celah-celah batu. Hanya jenazah yang sudah tumbuh gigi saja yang dimakamkan di Londa, sedangkan jenazah yang belum tumbuh gigi dimakamkan di dalam pohon atau digantung dengan tali di sisi tebing, hal ini karena mereka percaya adanya reingkarnasi.

Peti mati yang baru dimakamkan biasanya ditutup dengan kain putih atau dengan plastik putih transparan, saat kami berkunjung peti mati terbaru adalah jenazah yang meninggal tahun 2010. Pak Sampe sang pemandu kami mengingatkan agar kami tidak menyentuh peti mati atau memindahkan tulang dan tengkorak tanpa seizin adat. Jika hal ini terjadi maka perlu dilakukan upacara Rambu Solo.  Sama halnya mengganti peti yang sudah hancur dengan peti mati baru harus dilakukan upacara Rambu Solo. Dapat dipahami  mengapa tengkorak dan tulang-taulangnya dibiarkan tergeletak begitu saja. Sedangkan untuk sekedar mengambil foto diperbolehkan. 



Pak Sampe menunjuk ke salah satu tempat di dasar goa, di sana terdapat 2 buah tengkorak lengkap dengan tulang-tulangnya. Ini seperti kisah Romeo dan Juliet, mereka mengakhiri hidupnya dengan cara menggantungkan diri di pohon. Hubungan percintaan mereka tidak disetujui keluarga dikarenakan mereka masih memiliki hubungan kerabat. Ironis memang, setelah meninggal justru jenazah mereka bisa dimakamkan berdampingan.

Lemo

Untuk mencapai Lemo jaraknya sekitar 12 km di selatan Rantepao, dapat ditemukan dengan mudah karena di pinggir jalan terpasang papan besar penunjuk arah. Pemakaman Lemo letaknya di atas bukit batu, di bawahnya terdapat petak-petak sawah hijau menggambarkan alam pedesaan yang masih asri. Untuk menuju ke bukit batu tersebut kita harus melewati pematang sawah. Lemo adalah kuburan batu tertua nomor dua di Tana Toraja, sedangkan kuburan batu tertua adalah Songgi Patolo. Lemo diperkirakan sudah ada sejak abad ke-16.



Dinamakan Lemo karena bukit batu tersebut bentuknya bulat menyerupai jeruk limau. Saya melihat Lemo sangat berbeda dengan kuburan batu lainnya. Jika di kuburan batu lainnya kita bisa melihat peti-peti mati digantung di tebing, maka di Lemo peti-peti mati tersebut dimasukkan ke dalam lubang batu dengan tangga atau ditarik dengan tali. Ukuran lubangnya pun cukup besar, sekitar 3 meter kali  5 meter. Untuk membuat lubang ini dibutuhkan biaya yang cukup besar, karena lubang tersebut dibuat dengan cara memahat bukit batu secara manual. Waktu yang dibutuhkan bisa mencapai 6 bulan atau bahkan 1 tahun.

Dalam satu lubang diisi oleh makam satu keluarga. Dari luar yang terlihat hanya pintu lubangnya saja yang ditutup dengan papan kayu. Terlihat sederetan patung kayu (Tau-Tau) diletakkan di beberapa lubang. Di bukit batu ini terdapat sekitar 75 lubang dan 40 buah Tau-Tau. Adanya Tau-Tau menunjukkan bahwa ini adalah pemakaman kaum bangsawan. Sebelum di makamkan di Lemo jenazah mereka pun melalui proses upacara Rambu Solo.



Meskipun untuk menuju Tana Toraja saya harus menempuh perjalanan jauh berjam-jam, tapi perjalanan ini sangat saya nikmati. Jika kita melakukan perjalanan siang hari kita bisa mampir ke objek wisata lain di kabupaten yang kita lewati. Apalagi ketika memasuki kabupaten  Enrekang, meskipun jalannya berliku-liku tapi pemandangan alamnya sangat indah. Ada Gunung Buttu Kabobong dan dikenal dengan nama Gunung Nona yang menurut saya sangat indah dan unik.

Menerobos Keunikan Pantai di Taman Nasional Meru Betiri

Taman Nasional Meru Betiri merupakai salah satu taman nasional yang dikunjungi dalam petualangan wisata kami. Taman Nasional Meru Betiri merupakan perwakilan ekosistem mangrove, hutan rawa dan hutan hujan dataran rendah di Jawa. Sebagai Taman Nasional ada banyak flora dan fauna yang dilindungi dan dilestarikan di sini. Untuk menemukan Taman Nasional Meru Betiri kami harus menuju  desa Sarongan Kecamatan Pasanggrahan Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur. 

Setelah melalui perjalanan panjang dan melelahkan sampailah kami di Pantai Rejegwesi yang merupakan  pintu gerbang Taman Nasional Meru Betiri dari Timur. Ombak di pantai ini  relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan pantai selatan lainnya. Pantai ini kemudian dimanfaatkan sebagai tempat berlabuhnya kapal-kapal nelayan penangkap ikan. Sedangkan kami memanfaatkan pantai ini untuk camping bermalam di tenda sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat wisata lain. 

Perjalanan kami lanjutkan menuju pemukiman penduduk terakhir di desa Sarongan dan menitipkan kendaraan di salah satu penduduk di desa ini. Meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak dengan pemandangan hutan habitat tumbuhan langka. Sampai pada pos penjagaan ada beberapa pilihan tujuan wisata seperti Goa Jepang, Habitat Rafflesia, Teluk Damai dan Teluk Hijau dan kami memilih Teluk Damai dan Teluk Hijau. Teluk Damai dan Teluk Hijau merupakan salah satu garis pantai selatan dibagian timur pulau Jawa.

Berpegangan pada ranting tanaman semak belukar, kami harus menuruni tebing terjal untuk dapat mencapai pantai Teluk Damai.
Tak ada pasir putih di pantai ini, hanya susunan batu yang akan berbunyi gemericik jika diguyur ombak. Perairan yang menjorok ke daratan menjadikan teluk ini dikelilingi dinding daratan dengan batu karang besar. Deburan ombak sesekali menghantam karang menjadikan keasikan sendiri memandangnya. Air lautnya jernih berwarna hijau kebiruan, udaranya segar perpaduan angin laut dan angin terpaan pepohonan di atas Tebing. Biasanya kita akan merasakan panas dan terik jika berada di pantai berbeda dengan Teluk Damai, pohon besar di atas tebing menjadikan pantai Teluk Damai sejuk dan asri. 

Tak jauh dari Teluk Damai ada papan penunjuk jalan menuju Teluk Hijau. Masuk melalui jalur berbukit menembus hutan sejauh kurang lebih 1 KM dan menuruni tebing, berjalan mengikuti papan penunjuk jalan sampailah kami pada area terbuka dengan pantai berbatu, jangan salah bukan itu pantai Teluk Hijau tapi berjalanlah terus menyusuri batu-batu di pantai dibalik pepohonan yang menjulur ke pantai di sanalah Teluk Hijau.
Tak sia-sia menempuh perjalanan jauh dan melelahkan jika akhirnya menemukan pantai landai dengan hamparan pasir putih yang lembut. Sesuai namanya airnya berwarna hijau. Tampak karang-karang cantik  menghiasi pantai dan pinggir tebing. Di salah satu sudut tebing terdapat air tawar dari pegunungan mengalir melalui tebing membentuk air terjun kecil setinggi 8 meter. Irama air yang mengalir menjatuhi pasir putih menambah sensasi keasikan berada di Teluk Hijau. Aktivitas yang dapat dilakukan di pantai ini adalah berenang, bermain pasir atau hanya sekedar duduk-duduk di tepi pantai di bawah pohonan rindang. Berada di pantai memandang laut hijau dengan hamparan pasir putih,   tebing-tebing berwarna hijau, hembusan angin dari atas tebing serta gemericik air terjun menjadikan hati terasa damai dan segala penat terurai. 


Pesona Keindahan Kawah Ijen di Ketinggian 2368 mdpl


Indonesia tanah air beta sungguh asik untuk dijelajahi, keindahan alamnya yang mempesona membuat kita terkagum-kagum. Bersama 4 teman, menggunakan kereta api perjalanan saya dimulai dari Jakarta menuju Surabaya untuk bertemu 10 teman lainnya. Dilanjutkan dengan kendaraan roda empat menuju Kabupaten Bondowoso Jawa Timur, tujuan kami adalah Taman Wisata Alam Kawah Ijen. Ada dua rute untuk menuju Kawasan Wisata Ijen yaitu melalui rute Kabupaten Bondowoso menuju Kecamatan klobang atau melalui Kabupaten Banyuwangi menuju Kecamatan Licin dan berakhir di Paltuding yang merupakan pos terakhir atau gerbang menuju Taman Wisata Alam Kawah Ijen.

Tersedia banyak penginapan di Paltuding dengan fasilitas dan harga beragam, sedangkan kami lebih memilih bermalam di tenda. Sebelum pukul 02.00 WIB kami harus sudah bangun dan mempersiapkan fisik. Makan dengan perbekalan yang ada atau hanya sekedar minum minuman hangat. Pagi itu sebelum matahari terbit pendakian akan kami mulai, sasaran kami adalah selain bisa melihat keindahan Kawah Ijen juga bisa menyaksikan fenomena Api Biru atau biasa dikenal dengan Blue Fire yang hanya bisa terlihat pada malam hingga dini hari.

Kawah Ijen adalah danau air asam yang terbentuk akibat letusan Gunung Ijen berkali-kali. Keasaman kawah ini hampir mendekati angka nol, sehingga bisa melaturkan pakaian bahkan kulit. Kawah Ijen terletak di atas Gunung Ijen, dengan ketinggian 2368 meter di atas permukaan air laut (mdpl) bukan hal mudah mendaki gunung ini. Struktur tanahnya berpasir dan berbatu krikil kecil yang menjadikan pendakian semakin licin.

Dari Paltuding kami menyusuri jalan setapak jalur pendakian. Udara dingin mulai terasa di kulit saya, mendaki di pagi buta dengan suasana yang masih gelap tentunya yang tak boleh lupa adalah membawa lampu senter. Tak ada pemandangan yang dapat kami nikmati selain kerlap-kerlip bintang bertaburan di langit. Jarak dari Paltuding ke Kawah Ijen adalah sekitar 3 KM yang dapat ditempuh selama 2 jam dengan berjalan santai. 100 meter di awal jalanan datar dan landai, selanjutnya jalanan mulai menanjak dengan kemiringan bervariasi antara 25 – 35 derajat. Sulit menyamakan ritme 15 orang dengan kondisi fisik dan stamina yang berbeda, sebagian dari kami akhirnya tertinggal jauh di belakang.




Sepanjang jalan tersedia pos-pos istirahat untuk sekedar duduk sambil mengatur nafas dan menunggu teman yang tertinggal. Melewati 1 KM medan pendakian mulai terasa semakin menanjak, saya pun mulai kesusahan untuk mengatur nafas. Rupanya saya sudah disusul oleh seorang bapak penambang belerang, wah cepat sekali bapak ini jalan atau saya yang jalan terlalu pelan. Saya pun jadi semangat, berjalan sambil ngobrol dan bertanya-tanya. Namanya pak Hadi usianya 49 tahun, bekerja sebagai penambang belerang tradisional sudah ia lakukan sejak usia 14 tahun awalnya ia diajak oleh Pamannya. Pak Hadi bilang 200 meter lagi sampai di Pos Timbang, ternyata benar itu artinya 2 KM sudah saya lewati berjalan selama 1 jam lebih dengan ketinggian 2214 mdpl. Melanjutkan perjalanan dengan medan yang masih menanjak dan semakin menanjak, akhirnya menemukan juga jalan datar dan landai tapi jalan setapaknya sangat sempit sehingga jika berpapasan dengan penambang belerang atau wisatawan lain harus mengalah jalan menepih. Bau belerang mulai tercium menyengat Kawah Ijen pun sudah sangat dekat.

Sampailah saya di puncak Gunung Ijen, sedangkan suasanan masih gelap. Di puncak sudah banyak wisatawan lain sebagian besar dari mereka adalah warga negara Perancis, rupanya mereka sudah dari tadi sampai di puncak. Sasaran mereka sama seperti kami yaitu bisa menyaksikan fenomena Blue Fire sebelum matahari terbit. Konon fenomena Blue Fire ini hanya ada 2 di dunia, satu lagi berada di  Islandia.


Blue Fire


Blue Fire adalah api berwarna biru yang muncul di sela-sela bebatuan di lokasi penambang belerang di bibir Kawah Ijen. Warna birunya semakin mempercantik Kawah Ijen dikegelapan. Untuk menyaksikan Blue Fire kita bisa turun menyusuri tebing kaldera berjalan di bebatuan di jalur penambang belerang.

Berhati-hatilah karna jalannya terjal belum lagi asap belerang tertiup angin mengarah ke arah kita asapnya sangat perih di mata. Jangan lupa memakai masker atau kain basah penutup hidung dan mulut seperti yang dilakukan oleh penambang belerang.

Selesai menyaksikan fenomena Blue Fire berjalanlah ke arah Timur, di balik lereng Gunung Merapi Jawa Timur muncul matahari terbit yang sangat indah menyinari puncak Gunung Ijen dan sekitarnya. 
Subhanallah sungguh indah lukisan alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, decak kagum begitu melihat Kawah Ijen terlihat sangat cantik berwarna hijau toska. Dikelilingi dinding kaldera berwarna coklat dan abu-abu membingkai indah Kawah Ijen. Sisa erupsi kegunungapian Ijen menjadikan dinding kaldera seperti pahatan batu yang terlihat indah dari kejauhan. Di bawah Kawah Ijen terlihat kepulan asap putih dengan  belerang berwarna kuning.



 Berada di atas puncak dengan panorama yang sangat indah, rasa letih setelah menempuh perjalanan jauh sirna berganti kekaguman. Berjalan menyusuri tebing di atas Kawah Ijen ada banyak pemandangan menarik yang terlihat. Gunung Merapi terlihat sangat dekat dan jelas dengan kabut tipis yang masih menyelimutinya. Gunung Raung terlihat sangat jauh, kepulan asap di puncaknya seakan mengisyaratkan bahwa ia adalah gunung api aktif, sedangkan Gunung Meranti terlihat berdiri kokoh besar.

Penambang Belerang


Selain itu kita juga bisa menyaksikan  aktivitas penambang belerang tradisional. Kawah Ijen adalah pemasok belerang (sulfur) utama di Indonesia. Ada sekitar 250 penambang belerang bekerja di sini. Mereka bekerja mulai pukul 01.00 WIB berjalan dari Paltuding memikul keranjang bambu kosong  naik ke Gunung ijen dan menuruni tebing menuju Kawah Ijen. 


Di pinggir Kawah Ijen itulah belerang berwarna kuning mereka galih dengan peralatan yang masih sangat manual, mereka angkut lagi ke atas dengan medan yang cukup terjal berbatu. Dalam sehari mereka bisa bolak-balik 2-3 kali mengangkut belerang dengan beban kurang lebih 80 Kg. Untuk memudahkan mereka bekerja secara estafet, belerang yang sudah mereka angkut ke atas mereka tinggalkan di jalan, kemuadian mereka bisa turun lagi ke kawah untuk menambang. Sedangkan penambang lainnya mengambil dan mengangkutnya menuju Pos Timbang, di Pos Timbang inilah belerang-belerang tersebut ditimbang dan dijual ke Perusahaan. Setiap hari mereka harus bekerja dengan menghirup asap belerang yang mengandung racun, pekerjaan yang sangat beresiko demi bisa menghidupi keluarga.

Anda tertarik berwisata ke Kawah Ijen? Pagi hari adalah waktu terbaik untuk mengunjungi Kawasan Wisata  Kawah Ijen, selain matahari belum bersinar terik, asap belerang pun belum tercium menyengat

Menyusuri Jejak Sejarah dan Kebudayaan Melayu di Pulau Penyengat




Pulau Penyengat dari namanya memang sedikit aneh, pulau ini terletak di Provinsi Kepulauan Riau, pulau ini menjadi salah satu objek wisata sejarah andalan di Provinsi Kepulauan Riau. Pulau ini dapat ditempuh selama 15 menit dari kota Tanjung Pinang dengan menggunakan perahu motor kecil atau yang biasa disebut dengan pompong, dengan tarif Rp. 5.000 per orang atau Rp. 80.000 per perahu jika Anda ingin menyewanya dengan sekali jalan.

Sesampai di Pulau Penyengat Anda bisa langsung melihat bangunan unik berwarna kuning, inilah Masjid Raya Sultan Riau. Konon Masjid ini dibangun dengan tidak menggunakan semen sama sekali sebagai bahan perekatnya, hanya menggunakan campuran telur, kapur dan tanah. Di depan pintu utama masjid pengunjung akan melihat kitab suci Al Quran tulisan tangan yang diletakkan di dalam peti kaca, Al Quran ini ditulis oleh Abdurrahman Stambul Sultan Kerajaan Riau pada tahun 1867 M. Ia adalah salah seorang Putra Riau yang dikirim Kerajaan Riau-Lingga untuk menuntut ilmu di Istambul Turki, Al Quran bergaya Istambul ini ditulisnya disela-sela kegiatannya mengajar agama Islam di Pulau Penyengat.


Puas melihat-lihat Masjid Raya Sultan Riau Anda bisa mengelilingi Pulau Penyengat dengan berjalan kaki atau jika malas berjalan kaki Anda bisa naik Becak Motor dari depan Masjid dengan tarif Rp. 25.000. Becak Motor ini akan mengantarkan Anda ke tempat-tempat bersejarah berikutnya. Sepanjang jalan Anda akan menikmati suasana Pulau Penyengat yang sepi, tidak ada suara mobil hanya ada beberapa motor yang lalu-lalang, penduduknya pun lebih memilih diam di dalam rumah.

Terdapat beberapa Kompleks Makam Bangsawan di Pulau ini salah satunya adalah kompleks makam Raja Hamidah (Engku Puteri) pemegang Religa Kerajaan (alat-alat kebesaran kerajaan). Raja Hamidah adalah permaisuri Sultan Mahmud Syah III (1760-1812).




Sultan Mahmud Syah III adalah keturunan Sultan Riau IV dengan gelarnya Raja Haji Fisabilillah yang merupakan pahlawan nasional dalam membela tanah melayu dalam peperangan melawan Belanda. Pulau ini milik Raja Hamidah yang diberikan oleh Sultan Mahmud Syah III sebagai mahar atau mas kawin.

Terdapat pula makam Raja Ali Haji (1808-1873), seorang pahlawan nasional dalam bidang sastra dan bahasa Indonesia, pujangga terkenal dengan hasil karyanya Gurindam 12, 12 pasal syair melayu yang berisikan nasihat-nasihat. Selain itu ada makam Raja Ahmad seorang penasehat kerajaan. Raja Haji Abdullah yang Dipertuan Muda Riau-Lingga IX (1855-1858) serta Permaisurinya Tengku Aisyah.



Tak jauh dari Kompleks Makam Raja Hamidah terdapat pula Kompleks Makam Raja Jafar yang Dipertuan Muda Riau-Lingga VI (1806-1831) dan Raja Ali yang Dipertuan Muda Riau-Lingga VIII (1844-1855) anak dari Raja Jafar beserta keturunannya. Hampir seluruh keturunan Raja Riau-Lingga dimakamkan di Pulau Penyengat.



Satu lagi peninggalan sejarah yang dapat Anda kunjungi adalah Balai Adat Melayu Indera Perkasa. Balai Adat adalah tempat penyimpanan perkakas-perkakas Raja dan Tuan Putri. Terdapat pelaminan pengantin di dalam Balai Adat ini. Selain itu di bawah bangunan Balai Adat Melayu Indera Perkasa terdapat sumur yang konon merupakan sumber mata air pertama di Pulau Penyengat.



Jika Anda sedang berada di kota Tanjung Pinang atau Batam, sempatkanlah berkunjung ke Pulau Penyengat di Kepulauan Riau.
 

Mendaki Gunung Anak Krakatau



Letaknya di tengah laut di perairan Selat Sunda, serta asal usul terbentuknya menjadikan Gunung Anak Krakatau terlihat berbeda dan istimewa dari gunung-gunung lainnya. Hal itu pula yang membuat saya tertarik untuk melakukan perjalanan ke sana.

Pagi itu Minggu, (24/2/2013) sebelum matahari terbit kami harus segera bangun untuk mempersiapkan diri melakukan perjalanan dari Pulau Sebesi tempat kami bermalam menuju Gunung Anak Krakatau. Waktu belum menunjukkan pukul 04.00 WIB semua anggota rombongan sudah berada di dalam kapal dan siap mengarungi lautan. Angin berhembus kencang, lautan masih terlihat gelap, suasana di dalam kapal pun sunyi, sebagian dari kami memilih melanjutkan tidurnya.

Kapal yang membawa kami masih terombang-ambing di lautan lepas, terhuyung ke kiri ke kanan, semakin lama goyangannya semakin terasa kencang “braaaak'' kapal menabrak ombak. Goncangannya mengagetkan kami, menyiutkan nyali, menaikkan adrenalin disusul teriakan-teriakan kami. Masing-masing segera mengambil posisi tidur, merebahkan badan adalah cara terbaik untuk mengurangi rasa mual. Suasana kembali sepi hanya berdoa dan berfikir positiflah yang dapat kami lakukan. 


Kapal ini sudah berlayar cukup lama, normalnya perjalanan dari Pulau Sebesi menuju Gunung Anak Krakatau dapat ditempuh selama 2 jam. Tapi inilah alam kita tidak dapat memprediksinya. Akhirnya sampai juga kapal ini menyentuh bibir pantai Gunung Anak Krakatau. Matahari sudah terlihat bersinar, ada kapal kayu kecil yang siap mengevakuasi kami menuju daratan.

Entah sejak kapan Gunung Anak Krakatau dibuka untuk tujuan wisata. Gunung api aktif ini merupakan “Cagar Alam” harta yang tak ternilai bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Sebagai Cagar Alam hanya ada empat tujuan yang diperbolehkan untuk menginjakkan kaki ke sini yaitu untuk penelitian, pendidikan, pengembangan pengetahuan dan penunjang budidaya.

Untuk bisa masuk kawasan Cagar Alam ini kita harus mengantongi Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) dari Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Lampung, hal ini bertujuan untuk melindungi pengunjung mengingat kawasan ini sangat berbahaya.

Sebelum melakukan pendakian kami mendapat pengarahan dari petugas, mereka sangat ketat mengawasi pengunjung, tapi bagi mereka wisatawan seperti kami bisa menjadi obat penghilang sepi, bayangkan setiap hari mereka harus berada di pulau yang tak berpenghuni ini. Ya, akhirnya kami diperbolehkan mendaki Gunung Anak Krakatau.

Di jalur pendakian yang tersedia saya berjalan cepat, berharap bisa mengabadikan puncak Gunung Anak Krakatau sebelum dipenihi oleh para narsis. Struktur tanah berpasir menjadikan pendakian ini berat dan licin bahkan berdebu, mendaki pagi hari adalah waktu yang tepat untuk menghindari panasnya pasir yang kita injak. Gundukan batu yang mengeras, sisa-sisa dari aktivitas vulkanik gunung api, menjadikan pemandangan menarik sepanjang pendakian.

Mungkin inilah gambaran jika Gunung Anak Krakatau ini sedang meletus, ia akan mengeluarkan api dan memuntahkan material-material yang ada di dalam perut. Tapi pagi itu saya sedang memandang Gunung Anak Krakatau yang sedang diam dan tertidur. Hanya dibutuhkan waktu kurang lebih 30 menit untuk bisa mencapai lereng Gunung Anak Krakatau, kita dilarang mendaki sampai ke atas puncaknya. Dari atas lereng gunung itu saya bisa memandang lautan lepas, deretan pulau-pulau yang mengelilingi Gunung Anak Krakatau, semuanya terlihat indah. Sedangkan di puncak Gunung Anak Krakatau terlihat kepulan asap belerang.


Puas berada di Gunung Anak Krakatau, saatnya wisata pantai dan laut. Tak hanya Gunung Anak Krakatau yang menjadi daya tarik di Selat Sunda. Deretan pulau-pulau kecil dengan pantai berpasir putih dan airnya yang berwarnah hijau toska menambah pesona keindahan Selat Sunda. 

Yang tak kalah menarik adalah keindahan bawah lautnya, surga bagi Penyelam. Lagoon Cabe ada spot terbaik untuk snorkeling. Sebelum menjatuhkan diri ke laut, Malik ketua rombongan kami berteriak “ingat teman-teman jangan menginjak terumbu karang, butuh waktu berpuluh-puluh tahun terumbu karang dapat tumbuh, jika kalian masih menginginkan anak cucu kita bisa menikmatinya”.

- Copyright © Jalan-jalan Asik - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -